Selasa, 14 April 2009

Jalan Cinta — Gnosticism

Jalan Cinta — Gnosticism
Shobet 04-03-2007
Shaykh Muhammad Hisham Kabbani



(Tepuk tangan meriah dan seruan takbir ketika Mawlana mendekati panggung)

As-Salaamu `alaikum wa Rahmatullahi Ta`ala wa Barakaatuhu.

(Wa `alaikum Salaam!)

Sebelum aku mulai aku ingin berkata bahwa mereka telah memberikanku sebuah jam tangan, dan mereka berkata, hati-hatilah, kita harus mengosongkan tempat ini pukul 10:15. (tertawa). Jadi itulah kenapa aku hanya bicara selama 15 menit, dan kemudian kita melakukan sedikit bacaan, kemudian kita usahakan mengakhirinya, kita selesai 5 menit sebelum waktunya.

Merupakan kehormatan bagiku berada disini malam ini bersama seluruh orang-orang yang menyenangkan dan tamu-tamu terkenal, dan aku seorang tamu. Jadi semoga Allah memberkahi kamu semua, dan memberkahi malam ini. Aku sedang berpikir tentang apa yang akan aku bicarakan –seperti saudara kita Yusuf Chico. Dia datang dengan kereta api dan berpikir dan memfokuskan diri. Begitu juga aku, aku sedang berpikir ketika di perjalanan dalam mobil. Dua (faktor?) –dia biasa menggunakan kereta, aku menggunakan mobil. Apa yang akan aku bicarakan?

Dan aku tahu malam ini adalah malam Kelahiran Nabi (saw) –seluruh bulan adalah bulan Nabi Tercinta kita Sayyidina Muhammad (saw), tapi aku ingin mengatakan bahwa ini sangatlah penting bagi kita sebagai komunitas Muslim untuk menitik beratkan pada malam kelahiran –karena ini kelahiran pesan surgawi Islam –seperti Jesus dan Musa dan Ibrahim dan Nuh dan Daud… ini sangat penting bagi komunitas mereka –yaitu hari kelahiran mereka. (Kelahiran) ini juga, bagi kita, sangatlah penting.

Aku berpikir ada di Inggris, ada sesuatu yang sudah diletakkan –sebutlah Jalan yang dijadikan untuk mengadakan pertunjukkan ( Road Show). Ada yang familier dengan itu? Aku pikir aku harus memberikan sebuah saran, menuju Jalan yang dijadikan untuk mengadakan pertunjukkan, bahwa kita tidak berada dalam sebuah film, atau sebuah teater film, untuk membuat sebuah pertunjukkan. Kita harus mengubahnya namanya menjadi "Jalan Cinta". Ini bukanlah jalan untuk dimenonton. Ini jalan dimana kita mengekspresikan kecintaan kita kepada Tuhan kita dan mencintai sesame. Aku tidak melihat seorang rasul yang mengutuk rasul sebelumnya, atau seorang nabi berbicara buruk tentang nabi sebelum dia.

Kau tahu, aku selalu melihat kepada komunitasku bahwa aku bagian darinya, dan berpikir Allah menciptakan kita –mengapa? Mengapa kita diciptakan? Apakah untuk dihukum? –Dia begitu kesal, begitu marah, bahwa Dia menciptakan para hamba untuk dilempar ke dalam api neraka? Perhatikan anak kecil itu –apakah ibunya sayang kepadanya atau tidak? Apa pun yang dia perbuat! Anaka itu –ayah atau ibunya tidak akan pernah melemparkan dia dalam hukuman –tapi mereka akan memaafkan dan mengajarinya. Jadi, kita manusia –kita tidak diciptakan untuk membenci, untuk membalas dendam. Kita tidak diciptakan untuk berkelahi dan mengutuk.

Tiada ada perbedaan dalam agama –setiap nabi atau rasul datang untuk berkata, "Ini Tuhan kita, inilah Pencipta kita, inilah Allah (swt)." Mereka tidak mempunyai perbedaan-perbedaan. Perbedaan kita ciptakan dalam diri kita sendiri –dan ketika perbedaan musnah, cinta timbul.

Perhatikan, aku sedang berpikir dalam mobil –tentang apa yang akan aku bicarakan? Ini malam sang Nabi (saw), aku harus bahagia! Aku ingin bernyanyi, aku ingin menari. Aku ingin memperlihatkan kepada semua orang bagaimana untuk mencintai Nabi Muhammad (saw), bagaimana beliau bahagia dan senang dengan semua orang! Beliau menerima Jesus (as), beliau menerima Musa (as), beliau menerima semua orang!

Dan jika Jesus berada pada masa Muhammad (saw), dia akan menerima Muhammad (saw)! Dan jika Musa (as) berada pada Jesus (as) dia akan menerima Jesus (as)! Tapi ini adalah sebuah rantai para nabi, rasul –jadi mengapa kita membicarakan kekuatan negatif itu, energi negatif, yang bersama kita, yang mengotori kita, mengotori semua orang.

Ini hanya membuat aku baik dan tidak baik buat orang lain. Jadi itulah kenapa diciptakan kebingunan ini. "Aku ingin pergi ke Surga, semua orang yang lain harus pergi ke api neraka." Mengapa? Biarkan semua orang pergi ke Surga. Aku akan bahagia. Aku tidak kehilangan! Karena kehilangan apa yang aku alami? Semua orang pergi ke Surga, jadi aku akan mempunyai sebuah kesempatan pergi ke Surga. Tapi kini, aku tidak punya satu kesempatan pun. Tapi jika Surga dibuka bagi semua orang, semua orang akan pergi ke Surga. Jika kini istana ratu dibuka, semua orang akan pergi ke istana! Menjadi bahagia. Tidak seorang pun akan berkata, "Tidak, aku tidak mau masuk." Tidak, kami masuk, kami ingin melihat apa yang ada didalam –mungkin didalam sana akan ada makanan yang baik. Aku tidak tahu jika disana ada makanan yang baik atau tidak.

Jadi mengapa kita harus menjadi seperti "Muslim pergi keSurga, dan yang lain harus pergi ke api neraka." Atau yang lain akan berkata, "Kita pergi ke Surga, yang lain akan pergi ke api neraka." Untuk apa? Biarkan mereka pergi, semuanya bersama-sama, dan memasuki Surga –siapa yang akan menutupnya? Kita akan membuat sebuah demostrasi disana. Dari setiap agama, kita letakkan sebuah poster, berbunyi "Kami ingin bergandengan tangan dan memasuki Surga." Kau pikir para malaikat akan menghentikan kita? Allah akan bahagia, Tuhan akan bahagia."Y'Allah, datanglan para hamba-Ku. Aku mencintaimu, masuklah ke dalam." Inilah Jalan Cinta. Ini bukan Jalan yang dijadikan untuk mengadakan pertunjukkan (Road Show). Kita tidak berada dalam kebun binatang untuk membuat sebuah pertunjukkan. Jadi aku berpikir, tentang apa yang akan aku bicarakan? Dan kita punya, dalam hadist kita, itu seperti dalam perbedaan agama-agama, kita mempunyai Malam Kenaikan, Perjalanan Malam Hari (Isra' Mi'raj), dimana Nabi (saw) pergi ke Hadirat Tuhan-nya –Hadirat Illahiah. Aku berpikir, aku pergi dalam mobil ini –aku tidak tahu bagaimana tiba ke tempat ini –dan aku melihat supir menekan beberapa kunci, dan seorang wanita muncul- bukan gambar, hanya sebuah suara- berkata rute yang sudah dikalkulasi- Oh, siapakah yang bicara? Dia menjawab," Oh no no, ini seseorang yang aku letakkan dibagasi." (hadirin tertawa). Seseorang membimbing kita, "pergi ke kanan, pergi ke kiri, pergi ke kiri, pergi ke kanan." Ketika kita membuat sebuah kesalahan, mereka berkata, "Bukan, bukan, bukan, bukan, kita sudah menghitung ulang rutenya –pergi ke arah ini!" Oh. Siapakah itu? Itu seorang wanita. Aku berkata, "Apakah ada lelaki?" Dia menjawab, "Tidak." Karena kaum wanita, mereka memperlihatkan cinta mereka kepada anak-anak mereka, jadi dunia adalah seorang wanita, bumi adalah ibu pertiwi –karena kita diciptakan dari tanah bumi ini, jadi rahim bumi adalah rahim ibu.

Jadi cinta itu yang membawa kita selama 9 bulan dalam rahimnya, memperlihatkan cintanya kepada kita, dan kita diarahkan pada setiap langkah –dan disana ada sebuah peta.

Aku berpikir –ketika Jesus (as) dinaikkan ke Surga, siapa yang mengarahkan dia. Ini bumi, dan mereka tahu setiap tempat ini =dan mereka mengarahkan kita untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Dan lalu pada akhirnya –"Oh, kau sudah mencapai tujuanmu, selesai." Mereka berhenti. Siapa yang mengarahkan Jesus (as)? Untuk bumi, kita membutuhkan ratusan dan ratusan dan ratusan dan ribuan dan ribuan teknisi untuk meletakkan semua software (perangkat lunak) ini –Jesus diarahkan dengan mudah ke atas melalui semesta ini. Karena kita berada dalam sebuah semesta, Tuhan melampaui semesta –Hadirat-Nya dimana-mana, tapi Dia tidak dapat menjadi sesuatu yang Dia ciptakan. Tidak bisa sesuai, tidak mungkin. Melampaui itu. Dia tidak diarahkan, Dia adalah dalam setiap arah. Dia dalam setiap hati, Dia dalam setiap jiwa. Dia dalam semua orang, berbicara kepada kita. Itulah kenapa kita memperoleh inspirasi-inspirasi ini, inspirasi menyenangkan. Mengarahkanmu, memberitahumu "Ini buruk, ini baik. Ikuti yang baik, jangan ikuti yang buruk." Berapa kali kita berusaha melakukan –kaum muda melakukan narkoba di jalan- berapa kali inspirasi datang kepada mereka, berkata, "Jangan, jangan lakukan itu." Tapi mereka tidak ingin diarahkan. Ini sebuah masalah. Kita tidak mendengarkan sisi baik kita.

Jadi, Jesus diarahkan diseluruh alam semesta yang luas ini. Apa kau yang pikir tentang Sayyidina Muhammad (saw) dalam Malam Isra' Mi'raj, dimana beliau pergi ke Hadirat Illahiah? Beliau juga diarahkan. Bagaimana beliau memasukinya? Inilah keyakinan kita, dan keyakinan kaum Kristiani, dan keyakinan Yahudi, dan keyakinan semua orang—bahwa ada sebuah navigasi, melalui alam semesta ini dan berakhir dalam Hadirat Tuhan. Siapakah yang mengarahkan kita? Jika kau mengikuti tuntunan, kau sampai. Jika kau tidak mengikuti tuntunan, kau tidak akan pernah sampai.

Aku akan memberikanmu sebuah contoh kecil. Aku merasa malu memberikan contoh ini –tapi aku pikir orang itu akan bahagia untuk memberikan contoh itu. Saudara kita Yusuf Chico, sejak kami berada disini. Dia bicara lebih baik dariku sekarang. Aku terkejut. Seseorang bersamanya mengarahkan dia –ketika dia mendengarkan itu… ketika dia mendengarkan hatinya, dia diarahkan –dan dia mencapai kebenaran.

Tidak ada sesuatu dalam alam semesta ini kecuali cinta. Kita shalat, kita shalat. Kita puasa, kita puasa. Inilah kewajiban. Ini memperlihatkan Tuhan kita penghambaan kita. Kristiani, mereka sembahyang, mereka sembahyang. Mereka puasa, mereka puasa. Yahudi begitu juga. Mereka memperlihatkan kepada Tuhan mereka penghambaan mereka. Semua orang berada pada cara yang dia sukai, cara yang sesuai baginya. Kau tidak bisa memaksa orang melakukan apa yang kau lakukan. Dan itulah masalah. Jika kita tidak serakah bahwa kita ingin seluruh Surga bagi diri kita sendiri, berikan ruang barang sedikit saja bagi orang lain. Itulah masalah. Setiap orang dari kita menginginkan semuanya bagi dia. Jika kita tidak dapat memberi ijin bahkan kepada isteri kita untuk masuk Surga, maka kita tidak diijinkan –karena kita pergi mencari yang lain.

Inilah manusia. Inilah karakteristik ego. Wahai saudara dan saudari, malam ini sangatlah diberkahi, kau berada disini. Seperti yang mau akau katakan ini sebuah acara untuk memperlihatkan syukur kepada Tuhan kita, dan memperlihatkan perbedaan kita mempersatukan, seperti Nabi (saw) pernah sabdakan, "Manusia adalah sama, bagaikan ruas-ruas sisir yang sama" –kita sama, kita sama dalam apa pun.

Satu hal yang membedakan adalah keshalehan. Itu tergantung –siapa yang lebih shaleh dibandingkan yang lain. Dan keshalehan itu baik, karena memberikan kompetisi diantara orang-orang menjadi lebih baik dalam hidup mereka.

Keikhlasan. Kau dengan ikhlas setia kepada negaramu, yang membawamu ke kehidupan ini, dan itulah mengapa aku menyebutnya kemarin aku juga tidak suka menyebutkan hari ini –tapi aku menyebutkannya disini- semua orang berlarian ke Barat, mengapa? Untuk hidup bebas, bahagia. Orang-orang berlarian ke Eropa untuk apa? Untuk hidup bebas, bahagia. Jadi itu artinya sebuah negara yang merentangkan tangan, menerimamu. Jadi kau bukanlah orang yang buruk untuk mengambil sebuha batu dan melemparnya ke sumur tempat kau minum. Kau harus belajar itu. Kau punya... kita harus memberikan rasa syukur kita. Dan untuk menerima mereka karena mereka menerima kita. Atau bila tidak mereka akan menolak kita. Mereka tidak butuh kamu! Mereka tidak butuh kita –dan kini kita terlibat, dan mereka membuka Gedung-gedung Umum mereka, Senat, senator, semuanya –Datang! Berintegrasilah! Dan kita menjawab, "Jangan, jangan memilih." Mengapa kita tidak memilih? "Jangan berintegrasi." Mengapa kita tidak berintegrasi? "Memisahlah."

Ini salah. Jika kita berpikir seperti itu, mari kembali dan cari tempat perlindungan di Pakistan. (hadirin kembali) atau tempat perlindungan di India, atau tempat perlindungan di China. Ada yang mau pergi ke tempat perlindungan disana? Tidak seorang pun –semua orang datang ke tempat perlindungan disini. Jadi itu artinya kau harus bahagia disini. Dan mari kita perlihatkan cinta dan hormat kita. Kepada siapa mereka yang pergi ke tempat perlindungan dimasa Nabi (saw)? Ketika para Shahabat disiksa dan beliau disiksa dan diperlakukan sewenang-wenang oleh kaumnya –beliau mengutus para Shahabat beliau ke Abyssinia, ke Barat. Ke seorang raja Kristen. Beliau tidak berkata, "Itu seorang Kristen." Beliau berkata, "Itulah yang terbaik." Raja terbaik –raja Kristen. Dan sang raja, dia menyambut mereka. "Dan tidak ada perbedaan antara kau dan kami, " ujarnya. "Kita adalah sama, selamat datang." Kita diterima disini. Dan mari kita lakukan tugas kita, kerja yang sempurna, dan perlihatkan kepada semua orang bahwa kita Muslim, bahwa kita damai, dan saling mencintai, dan kita cinta kedamaian, kita cinta harmonis, dan cinta untuk berintegrasi, dan kita cinta bekerja bersama. Inilah pesan kita, dan inilah pesan, aku pikir, mayoritas komunitas Muslim —Semoga Tuhan memberkahi kita dan menjaga kita bahagia dalam kehidupan ini dan Akhirat. Terima kasih banyak, wa Salaam 'alaikum.

(tepuk tangan menggema)

Kita punya 10 menit, dank arena itulah kita akhiri. Abu Sha'ib, Ali Sayyid.

Asyadu 'a la `ilaha `illal Lah, wa `asyadu `anna Muhammadan 'Abduhu wa Rasuluhu …

Zikr.



Sumber : milis muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com posted by Sri Rahayu Handayani

Arsip Blog