Berbagai Kesusahan adalah Sebuah Kebaikan dari Allah (swt)
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani
Zawiya Oakland, 26 Pebruari 2008
Allahuma shalli ala Muhammadin wa ala 'ali Muhammadin wa sallam
A`udzu billahi min asy-syaitaan ir-rajiim Bismillahir-Rahmanir-Rahiim
Nawaytu'l-arba`iin, nawaytu'l-`itikaaf, nawaytu'l-khalwah, nawaytu'l-riyaada, nawaytu's-suuuk, nawaytu'l-`uzlah lillahi ta`ala fii hadzal-masjid
Ati` Allah wa ati` ar-Rasula wa uli 'l-amri minkum
Kita lanjutkan dari pertemuan sebelumnya bahwa setiap kesempatan Allah swt mengirimkan kebaikan-kebaikan-Nya atas kita. Dalam setiap kesempatan Allah swt is mengirimkan rahmat-Nya atas kita. Mengapa? Dan bagaimana kita dapat mengetahuinya? Bagaimana kita dapat tahu bahwa Allah swt memberi kita kehormatan dengan kebaikan-kebaikan-Nya?
Allah swt memberi kita kehormatan dengan kebaikan-kebaikan terus menerus… Dia hanya datang; ini sebuah kebaikan. Kita menunggu dia untuk memulai. Kita hanya manusia, kau tidak ketinggalan apa-apa.
Jadi, bagaimana kita tahu bahwa kebaikan-kebaikan yang datang atas kita adalah Allah swt tidak menghentikan kita bernafas. Ketika seseorang berhenti bernafas, apakah artinya? Dia wafat. Itulah sebuah kehormatan dan kebaikan besar yang Allah swt kirimkan bahwa udara yang mampu kita hirup dan hembuskan. Jika itu berhenti maka kita selesai.
Apa yang pertama-tama berhenti; menarik atau menghembuskan nafas? [menarik napas] Menghembuskan nafas ketika keluar, maka itu berhenti dan tidak masuk lagi. Jadi, tanda pertama adalah ketika nafas keluar namun nafas yang baru tidak masuk. Jadi itulah ni`mat dari Allah swt atas kita bahwa Dia merahmati kita dengan itu. Jadi berapa banyak… ini sangat kecil [jumlah] udara yang masuk dan ketika udara masuk. Kau mengambil oksigen dan membuang sisanya. Bagaimanakan tubuh dapat mengetahui kalau ini oksigen dan sisanya bukan oksigen?
Kini, jika mereka ingin menentukan udara dan mengeceknya, ini sebuah proses besar untuk menentukan yang mana oksigen, helium, hidrogen dan semua jenis gas. SubhanAllah, Allah swt memberikan kita kemampuan untuk tahu apa yang baik dan buruk untuk kita. Jika tubuh tahu apa yang baik buatmu dan oksigen baik bagimu. Dan oksigen mengalir ke jantung untuk mengambil darah ke otak serta ke seluruh tubuh. Apakah kau pikir kita tidak tahu apa yang baik dan buruk? Jika tubuh kita tahu gas mana yang baik buat kita, oksigen dan bukan yang lainnya, tidakkah Allah swt tahu untuk memberi kita [kesadaran akan] mana yang buruk dan mana yang baik.
Lalu mengapa kita mengikuti yang buruk? Jika kita tahu dan tubuh kita tahu dan jiwa kita tahu, lalu mengapa kita tidak menghentikan diri kita sendiri dari terjerumus ke dalam jebakan setan? Itulah mengapa seperti yang kami katakan sebelumnya -kau tidak ada disini- bahwa Allah swt menyukai hamba-Nya yang selalu meminta seperti murid meminta dari seorang guru. Grandsyaikh pernah berkata, "Jangan jadikan dirimu ulama, tapi jadikan dirimu sebagai seorang murid."
Tidak ada ulama. Tiap ulama adalah seorang murid dari ulama yang diatasnya dalam tiap bidang. Dalam tiap bidang ada ulama-ulama dan mereka adalah murid dari ulama-ulama yang ada diatas mereka namun ego tidak ingin kau menganggap dirimu seperti itu. Ego yang membuat kita jatuh dalam segala jenis masalah. "Allah," Grandsyaikh berkata, semoga Allah swt merahmati jiwa beliau, bahwa "kesulitan-kesulitan, Allah swt telah mengubah mereka ketika kita menerimanya sebagai kesulitan-kesulitan, kesulitan dimana kita berada didalamnya namun kenyataannya nantinya kesulitan tersebut menjadi nikmat."
Dan ini adalah sebuah… ini mempunyai makna besar yang harus kita pahami, bagaimana sebuah kesusahan menjadi sebuah nikmat. Bagaimana sebuah kesusahan menjadi sebuah kebaikan. Apa yang manusia katakan ketika mempunyai penyakit? Mereka tidak mengatakan penyakit itu sebagai sebuah nikmat, kebaikan. Mereka mengatakannya sebuah kesulitan dan masalah dan mereka mencari jalan keluar darinya. Jadi, kesusahan atau kesulitan apapun yang datang atas kita, Grandsyaikh katakan, "Ini adalah sebuah nikmat."
Apakah yang beliau maksudkan? Maksudnya bahwa karena itu adalah sebuah kesusahan, sejak kau mendapatkan kesusahan itu dan kesusahan menempel kepadamu karena itulah Allah swt akan membersihkanmu dari dosa-dosamu dan menjadikannya menjadi pahala.
إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا
فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Illaa man taaba wa aamana wa'amila 'amalan shaalihan fa ulaa-ika yubaddilullaahu sayyi-aatihim hasanaatiw wa kaanallaahu ghafuurar rahiimaa.
kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al Furqaan (25):70]
Karena kau bersabar atas kesusahan atau kesulitan itu, Allah swt akan mengubah dosa-dosa itu menjadi hasanaat. Jadi, berapa banyakkah Ummat an-Nabi yang tidak memiliki kesulitan? Apakah kau mempunyai kesulitan? Kadang-kadang. Pastilah. Kau punya kesulitan? Kita semua punya kesulitan. Jadi, Allah swt membersihkanmu dengan itu. Perhatikan.. kau tahu Khan, Ikramullah Khan, orang berjanggut dengan pakaian tersetrika rapi. Kau perhatikan bahwa dia sangat tampan, tersetrika sangat rapi.
Kita semua duduk didepan cermin setiap hari atau kita… aku tidak berteriak, mungkin kau berteriak. Berapa kalikah kau berteriak pada istrimu, berapa kali dalam sehari kau berkata, "Kau tidak menyetrika bajuku!" Kau berteriak? Kau juga berteriak? Kau juga. Dia lebih sabar darimu. Kau orang Perancis. Jadi, kau berteriak padanya [istrimu], "Mengapa kau tidak menyetrika baju-bajuku?" Agar saat kau pergi keluar orang-orang akan menghormatimu dan menganggap kau tampan. Namun sebelum pakaian-pakaian itu disetrika dimana pakaian itu berada? Mengapa kita harus menyetrikanya? Mengapa pakaian-pakaian itu kusut? Aku bertanya kepada mereka di internet. Mengapa pakaian kusut? Karena mereka dicuci. Mengapa pakaian kotor? Karena kita yang mengotorinya.
Jadi, ketika kau membuat dirimu, egomu kotor, begitu kotornya lalu kau butuh sebuah mesin cuci sekarang. Apakah mesin cuci itu? Ketika kau menaruh pakaian didalam mesin cuci, apakah yang terjadi? Mesin cuci mulai memeras dan memeras pakaian-pakaian itu. Lalu apa? Pakaian yang keluar dari mesin cuci menjadi sangat kusut.
Kita kotor. Untuk membersihkan diri kita sendiri, mereka memasukkan kita ke dalam mesin cuci. Mesin cuci akan meremas-remas kita. Kita diremas secara menyeluruh dan diremas lalu mengeluarkan kita. Mesin cuci membuatmu keluar dalam keadaan kusut namun bersih. Allah swt mengirimmu kesusahan dan pada akhirnya kau menjadi bersih. Allah swt mencintai kita. Mengapa? Karena Dia menjadikan kita sebagai bagian dari ummat Sayyidina Muhammad (saw). Allah swt mencintai semua nabi namun Dia lebih mencintai Sayyidina Muhammad (saw) dibandingkan mereka semua. Dia menciptakan kita dari cahaya-Nya dan Dia menciptakan segala sesuatu demi kepentingan beliau.
Jadi, Allah swt tidak menjadikan kita bagian dari ummat nabi lain dan itu artinya Dia lebih mencintai kita dibandingkan ummat lainnya. Mereka melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku di Noor TV: "Mengapa komunitas Muslin saat ini mempunyai banyak masalah?" Kami kotor, mereka mencuci kami. Kita selalu kehilangan saat ini karena kita lebih kotor dan lebih kotor dan lebih kotor. Allah swt ingin kita menjadi bersih. Sang Nabi Muhammad (saw) bersih. Allah swt tidak akan mengirim kita agar bersama beliau (saw) dalam keadaan kotor. Jadi, Dia membersihkan dengan meremas kita dan pada akhirnya kita butuh disetrika. Penyetrikaan bermakna bertaubat. Saat disetrika kita mempunyai tubuh yang lebih baik karena kesusahan-kesusahan yang mempengaruhi kita.
Jadi kesusahan adalah sebuah ni'mat. Manusia tidak melihatnya dari sudut pandang itu namun awliyaullah melihat hal tersebut dari sudut pandang itu. Sang Nabi (saw) berkata, apa? Beliau berkata, "Akulah nabi diantara para nabi dan manusia diantara manusia yang paling teraniaya." Dan beliaulah rasul terakhir. Perhatikan Sayyidina Musa (as) tersesat selama 40 tahun di gurun pasir. Allah swt memberitahu beliau, "Aku akan memberimu kemenangan atas Fir'aun" dan selama 40 tahun dia tersesat. Dan selama 40 tahun Fir'aun menggilas Bani Israel dan Sayyidina Musa (as) tersesat.
Sayyidina `Isa (as), mereka mengejar untuk membunuhnya. Sayyidina Muhammad (saw), mereka menyiksa dan memaki serta berusaha membunuh beliau. Sayyidina Ibrahim (as) dianiaya dan dilempar ke dalam kobaran api. Sayyidina Nuh (as), mereka melempari dengan batu dan menganiaya beliau ketika sedang membangun bahtera.
Jadi, apakah kita lebih baik dibandingkan para Nabi? Allah swt mengutus kesusahan-kesusahan untuk membersihkan kita. Jadi, jangan katakan saat kesusahan-kesusahan datang bukanlah nikmat. Ucapkan, "Ya Allah, Kau mengirimnya dan Kau dapat mengambilnya dan aku bertaubat. Allah swt mengirim kesusahan agar kita bertaubat sehingga kita akan berada diposisi yang baik dihadapan Allah swt pada Hari Pembalasan."
Dan dia berkata ketika kita melakukan sebuah dosa, kita melakukannya dengan… ketika kita jatuh dalam kesalahan, dosa, hasrat dari ego, kita melakukannya dengan penuh energi. Ketika waktu shalat datang, kita melakukannya dengan penuh kemalasan. Berapa banyakkah orang yang tidak shalat? Dan Allah swt berfirman kau harus shalat 5 waktu. Ketika orang mulai malas shalat, terutama shalat Fajr. Ketika shalat Fajr datang, kita masih tidur.
Para remaja berkata, "O syaikh, aku tidak bisa bangun untuk shalat Fajr. Apa yang harus aku lakukan?" Apa yang harus kau lakukan? Pukuli dirimu. Dia berkata, "Aku tidak bisa bangun untuk shalat Fajr." Taruh jam ber-alarm. Beritahukan istrimu untuk membangunkanmu, karena dia shalat dan kau tidak. Tidak, aku bercanda. Jadi, letakkan jam ber-alarm. Mereka berkata, "Kita meletakkan jam ber-alarm namun kita berpaling ke posisi ini atau itu untuk mematikannya." Jadi, segera setelah jam berbunyi, mereka mematikannya. Bukankah begitu?
Mengapa bagus mempunyai sebuah masjid di tiap jalan dan tiap sudut? Karena kau tidak bisa mematikan suara dari masjid. Ketika muadzin mulai menyerukan adzan, kau tidak bisa menghentikannya. Suaranya terdengar diseluruh pelosok. Kini setan berkata kepada manusia, "Jangan dengarkan masjid terdekat." Di negara-negara Muslim, mereka menaruh sebuah mikrofon. Dimana lalu mereka mempunyai menara-menara masjid, 1 atau 2 atau 4 buah menara masjid dan mereka bangun, mereka menyerukan minarets adzan dari sana.
Kini, mereka meletakkan pengeras-pengeras suara namun saat shalat Fajr mereka mengecilkan suara pengeras itu. Mereka tidak menyerukan adzan di pengeras-pengeras suara. Kini, ini menjadi hukum dibanyak negara. Mengapa? Karena mereka tidak ingin membangunkan orang waktu Fajr.
Jadi, mereka berkata, "Aku mematikan alarm." Aku menjawab, "Baiklah, jauhkan posisi alarm dari tempat tidur dan alarm akan terus bunyi." Jadi, kau kuatir anak-anak tidak bangun terutama para remaja dan kemudian kau bangun. Selesai. Jadi itulah masalahnya. Dan itulah yang beliau katakan, Grandsyaikh, dan Mawlana Syaikh Nazim, semoga Allah mengaruniai beliau umur panjang, bahwa ketika shalat Fajr kita malas. Untuk melakukan sesuatu yang haram kita begitu bertenaga. Itulah bagaimana ego kita memperdaya kita. Dan kemudian apa yang akan terjadi? Kita berada dibawah kesulitan-kesulitan.
Itulah mengapa kita memohon, "Ya Rabbii, kami adalah hamba-hamba yang penuh dosa. Manusia penuh dosa. Kami memohon kepada-Mu untuk membantu kami menyingkirkan hasrat buruk dari diri kita dan Kau-lah satu-satunya yang dapat mengambilnya demi kepentingan Sayyidina Muhammad (saw) dan demi kepentingan awliyaullah singkirkanlah karakter buruk yang kami miliki dan penuhi kami dengan kecintaan beribadah yang lebih dan lebih cinta untuk amal yang baik. Bila tidak kami jatuh dalam perangkap setan. Kami tidak mempunyai kekuatan yang cukup, kekuatan datang dari-Mu, ya Allah. Tiada yang datang dari kami."
Dia merujuk kepada seorang ulama paling terkenal dalam Islam yang tidak mempunyai janggut. Kau tahu di Mesir dan negara-negara Arab ada sebagian ulama yang sangat besar. Bahkan grand mufti dinegara-negara Muslim tetapi mereka tidak mempunyai janggut. Dia berkata, "Jika kau membiarkan janggutmu tumbuh, Allah swt akan membukakan kepadamu tingkat kewalian." Karena dia adalah seorang alim (berilmu .penerj), maka dia sudah siap. Egonya tidak membiarkan dia menumbuhkan janggutnya. Karena jika dia ingin mengambil turban dan topinya dan dia tidak mempunyai jangut dan berambut panjang, rambut yang bagus, dia dapat dengan mudah pergi ke tempat disko manapun, bukankah begitu Abu Syuaib?
Namun ketika dia mempunyai janggut yang panjang dan topi dikepalanya, dapatkah dia pergi ke disko? Tidak bisa. Jadi, gambaran Islami ketika kau mengenakannya akan menyelamatkanmu. Itulah mengapa sang Nabi (saw) pernah berkata, "al-ama'imu tijaan al-`arab, turban adalah mahkota bagi bangsa Arab," turban adalah mahkota bagi kaum Muslim. Mereka mempunyai banyak turban di Afghanistan.Tapi pastikan mereka tidak mempunyai turban dan berambut panjang.
Jadi, mereka dapat melepaskan turban dan mengeluarkan rambut panjangnya dan sedikit janggut memudahkannya pergi kemana-mana, tidak seorang pun yang tahu bahwa dia alim (berilmu .penerj). Dan siapa yang tidak mempunyai janggut dan turban, apa yang kau lakukan dengan Sunnah Nabi? Kau membunuhnya. "Barang siapa yang menghidupkan Sunnahku ketika dimana-mana terdapat penyelewengan, Allah swt akan memberikan pahala atasnya seperti 70 orang syahid." Sahabat sekarat menginginkan pahala 1 orang syahid. Sang Nabi (saw) berkata bahwa apabila terdapat penyelewengan dalam Ummah, siapapun yang menghidupkan Sunnahku, Allah akan memberikan pahala kepadanya [seperti] 70 orang syahid.
Mengapa kita tidak melakukannya? Perhatikan yang satu ini, masya-Allah dia orang Perancis, namun dia memiliki topi dan janggut. Perhatikan orang ini, orang Amerika yang pindah agama, dia mempunyai janggut dan topi bertengger diatas kepalanya. Perhatikan orang itu, dia terlihat seperti orang Pakistan tapi bukan. Dia mencukur janggutnya. Dia akan menumbuhkan janggutnya sekarang. Aku menyukainya; itulah mengapa aku memilihnya.
Jadi penampilan juga penting. Seperti sebuah jam. Jika jam bekerja dari dalam, jika baterainya bekerja, apakah manfaatnya? Kau dapat melihat waktu. Jika penampilan kita tidak seperti penampilan kaum Muslim seperti penampilan sang Nabi (saw) dan para Sahabat, maka dia tidak seperti seorang Muslim. Ini seperti kita kehilangan jarum-jarum jam. Dan jarum-jarum ini adalah penampilan Islami.
Jagalah penampilan Islami setidaknya ketika kita shalat. Orang-orang kini shalat tanpa penampilan Islami. Hal ini tidak mengapa selama mereka tahu akan hal itu dan selama mereka berusaha menjadi hamba yang setia kepada Allah swt. Apa yang dapat kita lakukan dimasa yang sangat sulit untuk mengamati hal itu dan melakukan apa yang perlu dilakukan. Tetapi ketahuilah bahwa Allah swt mengirim kesulitan-kesulitan ini karena kita jauh dari tingkah laku Islami dan mengingatkan dan membersihkan serta membawa kita kembali bersih dalam Hadirat Allah swt.
Jadi dia memberitahukan kepada ulama tersebut, "Jika kau menumbuhkan janggutmu maka kau akan menjadi seorang wali." Artinya bahwa ketika mempunyai dukungan, kau akan membunuh setan yang bersamamu. Ketika kau jadi berbeda dengan lainnya, orang akan melihatmu, kau merasa bahwa kau bukanlah bagian dari tempat itu. Kau aneh dalam sebuah komunitas yang telah diselewengkan. Dia masih menumbuhkan janggutnya. Allah swt akan memberikan dukungan kepada manusia. Dan kita memohon kepada Allah swt untuk memberikan kita dukungan. Dan dia bertanya, "Apakah rendah diri (tawadhu') itu? Ma huwa at-tawadha`. Apakah perbedaan antara kerendah dirian (tawadhu') dan keegoisan? Apakah perbedaan antara tawadhu' dan kesombongan? Apakah perbedaan antara tawadhu' dan membanggakan diri?"
Beliau berkata, "Ada perbedaan yang sangat besar. Kau telah disogok/dicangkok, seperti kau mencangkok sebuah pohon liar agar buahnya manis, bagaimana kau mencangkoknya, tawadhu' adalah saat kau dicangkok oleh sang Nabi (saw), yang
mempunyai tingkatan tertinggi ke-tawadhu'-an yang telah Allah swt karuniakan kepada beliau. Itu artinya kau mewarisinya dari sang Nabi (saw). Keegoisan, kesombongan dan membanggakan diri sendiri kau warisi dari Iblis. Iblis adalah yang paling sombong, paling bangga dan paling egois. Allah swt mendeskripsikannya ketika dia berkata,
مِنْ طِينٍ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ
Qaala ana khairum minhu khalaqtanii min naariw wa khalaqtahuu min thiin.
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". [Shaad (38):76] dan Allah melempar setan keluar."
Dan sang Nabi (saw) manusia yang paling tawadhu'. Bagaimanakah kita mengetahui hal itu? Beliau diundang ke "qaaba qausaini au adnaa – dua busur panah atau lebih dekat lagi." Tidak ada nabi lain yang diundang ke sana. Jadi ke-tawadhu'-an mengangkatmu lebih tinggi, sangat tinggi dan kebanggaan diri mengantarmu ke tingkat yang sangat rendah.
Kita memohon kepada Allah swt untuk memenuhi kita dengan ke-tawadhu'-an dan menjadi sangat dekat dengan sang Nabi (saw) dan mengambil kesombongan, membanggakan diri sendiri dan keegoisan dari hati kita serta menjaga kita jauh dengan setan. Dengan cara ini kita akan sanggup menghancurkan rumah Setan yang dia bangun dalam hati kita dan kita akan sanggup membangun kebahagiaan, kedamaian dan kepuasan bersama hati kita dan membangun diri kita menjadi hamba-hamba yang lebih baik bagi Allah swt. Semoga Allah swt mendukung dan merahmati kita dan … Bi-hurmatil habib, bi-hurmatil Fatiha.
Sumber :
milis muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com
posted by Sri Rahayu Handayani