Temukan Sumber Awet Muda - Manfaat dari Menjaga Lidah dengan Zikrullah
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani (qs)
Hari Sabtu Tanggal 13 September 2008
Fenton, Michigan-Amerika Serikat
SubhanAllah, idzaa zulzilat al-ardhu zilzaalahaa dan apa yang ada di dalam bumi dikeluarkan.
Di Indonesia, mereka sedang mencari minyak bumi. Mereka membor 300 meter ke bawah tanah hingga membentur lapisan bumi berisi lumpur mendidih. Dan selama 2 tahun sampai hari ini, tempat itu memuntahkan lumpur panas yang menggenangi desa-desa. Sudah 2 tahun tidak berhenti. Lima ratus ribu dolar Amerika kerugiannya dalam sehari.
Jadi, saat Allah SWT berfirman, "wa akhrajatil ardhu atsqaalahaa," lumpur naik ke atas dan menenggelamkan semua desa.
Ketika kami bersama Mawlana Syaikh di Jepang, kami bertemu seorang laki-laki. Dia punya kartu nama. Dikartu namanya itu tertulis laa ilaaha illa-Allah Muhammadan Rasulullah dan "Bacalah ini, Anda akan masuk surga". Dia berkata, "Inilah tugas saya." Siapapun yang membacanya, maka mendapatkannya.
Jadi, buatlah kupon rumah makan – memberikan diskon 10% pada semua orang yang punya kupon itu. Beritahukan kepada mereka untuk membacanya (Laa ilaaha illa Allah) kemudian berilah diskon.
A'udzu billah min ash-shaytan ir-rajiim
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
Nawaytu'l-arba`in,
nawaytu'l-`itikaaf,
nawaytu'l-khalwah,
nawaytu'l-riyaada,
nawaytu's-suluk,
nawaytu'l-`uzlah lillahi ta`ala
fii hadza'l-masjid
Itu artinya, jika hati secara istiqamah terus menerus dalam keadaan zikrullah dan tidak ada apapun yang dapat mengalihkan perhatiannya, sehingga hatimu selalu terjaga dengan zikrullah, abwab ul-ma`rifah, pintu ma`rifah mulai terbuka dan begitu juga 6 Haqiqat kepada kalian. Sebagaimana yang sudah kami jelaskan pada pertemuan sebelumnya. Konsistenlah dalam cinta kepada Allah SWT dan Sayyidina Muhammad SAW. Jadi, orang-orang mungkin bertanya apakah definisi dari cinta. Karena ada mereka yang tidak mau menerima definisi cinta kecuali yang didefinisikan budaya barat.
Apakah cinta itu? Cinta sangatlah sederhana. Yakni, mencintai segala sesuatu bagi Akhirat karena Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan membenci segala sesuatu yang diperuntukkan bagi dunya, demi kepentingan Allah SWT dan Rasul-Nya. Artinya, jika kalian mencintai anak kalian, maka kalian harus mencintainya karena Allah SWT. Jika mencintai istri kalian, maka cintailah karena Allah SWT. Jika mencintai sesuatu yang kalian miliki, maka cintailah karena Allah SWT, cinta itu harus ada di Jalan Allah SWT.
Jadi, jika hati selalu berada dijalur yang lurus maka Allah SWT membukakan keenam haqiqat ke hati kalian.
Jadi, sepanjang waktu kami menjelaskan. Namun yang kita butuhkan adalah praktek. Seperti dokter. Tanpa melakukan 3 tahun latihan, para dokter tidak akan didatangi satu pasienpun. Jika kita tidak melatih apa yang kita pelajari, maka saya rasa kita hanya membuang-buang waktu.
Namun alhamdulillah kita dapat melihat apa yang orang-orang praktekkan meski pada basis yang minimal. Mereka mempraktekkan dengan menyeberangi lautan (untuk datang kesini) karena cinta yang dibukakan kepada mereka. Apakah dari cinta kepada dunya? Sehingga mereka datang untuk mendengar dan belajar, mengendarai mobil selama berjam-jam, untuk apa semua itu? Untuk sebuah sebab yang sejati. Jika didalam hati mereka tidak ada cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW serta Syaikh kita, mengapa mereka datang mengemudikan kendaraannya bermil-mil ke...
Ini menunjukkan bahwa kita berada dijalur yang benar. Kita harus tetap berada dijalur ini kemudian Allah SWT akan membukakan ma`rifah kepada kalian. Saat ma`rifah dibuka, maka `ilm datang.
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِندِنَا
وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا
Fa wajadaa 'abdam min 'ibaadinaa aatainaahu rahmatan min 'indinaa wa 'allamnaahu mil ladunnaa 'ilmaa - Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. [Al Kahfi (18):65]
Mengapa Dia mengajarkan pengetahuan surgawi-Nya? Karena beliau menemukan sumber awet muda. Mengapa Dia mengajari Sayyidina Khidr? Karena Sayyidina Khidr mencari dan mencari sumber tersebut. Apakah kita punya sebuah sumber untuk diri kita? Ya, kita punya sebuah sumber. Namun kita belajar dari sumber itu dari waktu ke waktu. Tapi tidak terus menerus.
Kita punya sumber, Allah Maha Kuasa akan menjadikan hatimu sebuah sumber. Qalb al-mu'min bayt ar-rabb- hati orang beriman adalah Rumah Tuhan. Rumah Allah tidak akan menjadi kosong, tapi akan menjadi penuh.
Jadi, ingatlah Allah (zikrullah) sebagaimana Rasulullah SAW ucapkan, "Jagalah lidahmu dengan zikrullah. Ija`l lisanak ratban bi zikrullah". Jadi, zikrullah adalah satu-satunya yang akan membawa kalian ke sumber sejati yang akan menempatkan pengetahuan ke dalam hatimu.
Ma`rifah dalam bahasa Arab artinya "untuk mengetahui sesuatu, 'Ilm yang lebih tinggi. Ma`rifah lebih tinggi. Ketika tahu sesuatu, maka kalian mulai menyelidiki dan kemudian Allah SWT akan mengirimkan 'ilm pada kalian.
Begini, banyak orang di basement rumahnya… [adzan berkumandang] Allahu Akbar. Banyak orang mempunyai sistem alarm di basement, jika ada banjir maka alarm akan berbunyi memberikan peringatan. Atau kalau ada kebakaran, alarm akan segera berbunyi. Api, api, api. Banjir, banjir, banjir. Kita harus menaruh sebuah alarm di hati kita. Yang akan memberi peringatan jika kita tidak berada dijalur yang benar.
Hati-hati kalau alarm berbunyi, artinya setan ada disana. Apakah alarm tersebut? Itulah zikrullah. Ketika kita melakukan zikir dengan dizaharkan atau disuarakan, maka segera alarm akan datang. Suara-suara tidak setuju bermunculan, kemudian dengan segera hatimu mengingatkan untuk ber-zikrullah. Lalu terserah kalian apakah akan membuka pintu bagi pengacau atau tidak.
Jangan berusaha mencari-cari alasan, "Oh aku sudah melakukan ini atau aku sudah melakukan itu dan aku tidak tahu apa-apa." Semua orang tahu berdasarkan pada pikirannya mana yang baik dan tidak baik. Jangan berkata, "Aku tidak tahu." Kalian tahu, fa alhamaha fujuuraha. Tapi ucapkan, "Aku memang melakukannya, semoga Allah mengampuniku!"
Jadi ma`rifah lebih tinggi - itu akan membawa kalian lebih tinggi. Bersungguh-sungguhlah dan Allah SWT akan mengajari kalian. Apalagi hal yang lebih baik yang kalian inginkan? Apakah ingin seseorang mengajari kalian? Jika Allah SWT berfirman, "Bersungguh-sungguhlah dan Aku akan mengajarimu," kalian harusnya sangat senang. Kalian akan menemukan guru seperti itu.
Ketika kalian memuat iklan dikoran dan ingin mendapat seseorang bergelar Ph.D, maka kalian akan memilih yang terbaik bukan?
Jadi, Allah SWT berfirman, "Aku akan mengajarimu. Tapi kau harus bersungguh-sungguh."
Ada lubang-lubang peluru yang harus kita bersihkan dalam pikiran kita.
Allah SWT adalah Maha Guru. Ketika Allah SWT mengutus Sayyidina Khidr untuk memperlihatkan kepada Sayyidina Musa beberapa pengalaman yang dilakukannya kepada orang-orang, kemudian malah Sayyidina Musa tidak sanggup bersabar … "innaka lan tastati` maya sabra". Itu untuk seorang nabi.
Tapi di zaman Ummat Sayyidina Muhammad SAW, kitalah ummmatan marhuma - Allah memberkahi ummat Muhammad dengan rahmat. Allah SWT berfirman, "Aku akan menjadi gurumu. Bersungguh-sungguhlah dan Aku akan mengajarimu."
Apa yang akan Allah SWT ajarkan? Allah SWT akan mengajarkan sesuatu yang tidak seorang pun bisa ajarkan. Dia tidak akan duduk seperti itu dan mengajar kalian. Laa tadrikahu al-absaar - ada suatu cara untuk dapat melihat Dia. Namun Allah SWT akan memberi inspirasi kepada kalian, mengirimkan inspirasi ke hati kalian dan menjadikannya seperti sebuah sumber; kalian mampu bicara dan bicara dan bicara dan orang mendengarkan serta mengambil hikmah dari kalian.
Grandsyaikh Maulana Syaikh Abdullah Daghestani, semoga Allah merahmati jiwa beliau, tidak pernah membuka sebuah buku. Beliau tidak belajar. Tapi dari hari ketika beliau dilahirkan oleh ibunya, mata hati beliau terbuka. Grandsyaikh tidak membutuhkan seorang pun untuk mengajarinya, beliau mengambil dari Sayyidina Muhammad SAW. Kalian akan terkejut saat beliau masih hidup, para ulama datang untuk mendengarkan ceramah-ceramah yang disampaikannnya. Dalam majelis Grandsyaikh ada 100, 50, 70 orang ulama datang untuk mendengarkan.
Para ulama tersebut dari ulama Syari'ah dan ulama yang mempelajari Islam. Saat Grandsyaikh bicara memberikan ajaran-ajaran, mereka menemukan jawaban atas pertanyaan mereka. Salah satu dari mereka adalah pamanku; dia adalah pimpinan seluruh ulama diwilayah tersebut.
Satu waktu, kami membawa paman menghadap Grandsyaikh setelah berbagai upaya. Paman selalu menolak, karena dia merasa dirinya ulama. Paman berkata, "Aku tahu lebih banyak dari semua orang, mengapa aku harus mengunjunginya?" Itulah kesombongan. Jadi sebagai seorang ulama dan mereka biasa memanggil pamanku dengan sebutan 'allama, yang artinya "orang yang mengetahui banyak hal dari setiap pengetahuan." Segala sesuatu yang kalian tanyakan, pasti dia tahu.
Dua tahun yang lalu, saya sedang di Lebanon. Dan saya bertemu dengan salah satu imam tertinggi, Mitron Khidr, dia sangat terkenal. Dia kenal pamanku dan ketika saya menyebutkan nama pamanku dia berkata, "Aku akan menceritakan sesuatu kepada anda." Ada istri Perdana Menteri dan seluruh komunitas elit. Dan saua memberitahunya sebuah cerita mengenai pamanku yang terjadi kepadaku.
Apakah kalian senang mendengar cerita?
Saya masih muda waktu itu dan akan menghadapi ujian akhir sejarah. Saat itu saya masih SMA. Hari terakhir adalah ujian sejarah. Pelajaran itu sangat susah dan bukunya banyak sekali. Saya menghampiri paman dan dia bertanya, "Ada apa?" Saya menjawab, "Saya akan menghadapi ujian akhir dan banyak buku yang harus dibaca." Kemudian pamanku berkata, "Biarkan aku melakukan sholat istikharah dan lihatlah jenis pertanyaan apa saja yang akan dikeluarkan untuk ujian."
Ada ribuan pertanyaan yang mungkin dipakai untuk ujian, bukan hanya satu. Paman membuka sebuah buku, dia punya sebuah buku tapi bukan buku sihir. Itu merupakan salah satu buku terkenal di perpustakaan Islam. Paman punya satu salinannya yang umurnya sudah sangat tua, sebuah manuskrip. Paman berkata, "Aku akan melakukan sholat istikharah dan hasilnya akan aku beritahukan padamu." Aku berpikir, "Apa maksud paman?!"
Paman membuka buku itu. Dia tidak tahu sejarah apa yang akan diujikan esok hari dan dia memberitahuku -setelah dia membuka dan membaca buku-, "Ujian yang besok akan kau hadapi adalah sebuah pertanyaan mengenai Sulaiman al-Qanuni [yang Terindah] seorang kaisar dari dinasti Utsmani dan penguji akan menanyakan kepadamu mengenai sejarah hidupnya."
Saya percaya pada paman. Kemudian saya pergi dan mempelajari soal itu sebaik-baiknya dan kami pun pergi ke kelas. Dan saya memberitahu seorang teman, yang lain memberitahu yang lain dan desas-desus ini menyebar ke seluruh kelas. Sampai pula ke telinga guru. Dan pada ujian sejarah adalah 15 halaman mengenai Sulaiman al-Qanuni. Jadi, mereka menyangka bahwa aku telah mencuri soal ujian dari tempat penyimpanan. Pak Guru menuduh dan saya menjawab, "Tidak! Ini ceritaku."
Guru itu adalah seorang mahasiswa PhD yang sedang menulis thesisnya. Saya berkata, "Tidak, pamanku yang mengatakannya. Saya tidak tahu kalau Anda memberi soal ujian mengenai Sulaiman al-Qanuni." Jadi, dia pun berkata, "Baiklah, aku akan menulis pertanyaan dikertas-kertas kecil, dilipat dan dibungkus. Lalu dimasukkan ke dalam kendi. Semuanya ambil satu kertas dan jawablah pertanyaan yang tertera didalamnya."
Jadi, dia membuat satu per satu pertanyaan, ada 200 pertanyaan. Dia punya 60-70 orang murid sehingga dia membuat banyak ekstra kertas. Kemudian tiba giliranku dan saya mengambil satu kertas. Kertas itu berisi sebuah pertanyaan mengenai Sulaiman al-Qanuni.
Guru itu tidak punya pilihan lain kecuali membiarkan aku menjawab pertanyaan yang ada. Jadi, aku mendapat nilai A+.
Setelah ujian, dia menyuruhku, "Jangan pulang dulu setelah kelas selesai." Saya menunggu dan beliaupun menghampiriku seraya bertanya, "Aku ini mahasiswa PhD dan sebentar lagi akan menghadapi ujian. Dapatkah pamanmu memberitahuku jawaban ujian?"
Lalu guruku itu pergi bersamaku ke tempat paman. Dan pamanku sangat ahli dalam bahasa Arab dan dia menyukai ini.
Paman melakukan istikharah. Dan paman memberikan 3 buah pertanyaan yang dia perlukan untuk lulus dari ujian. Setelah saya selesai bercerita, Mitron (sang uskup) memberitahuku sebuah cerita tentang pamanku. Katanya:
Suatu kali aku pergi dan kami mendiskusikan sebuah kata dalam bahasa Arab. Kata yang tidak pernah terpikir oleh seorang pun. Kata ini sangat dalam maknanya tata bahasa Arab. Bagaimana mereka menggunakan kata itu digunakan antar suku dizaman sebelum Rasulullah SAW diutus. Jadi, aku memberikan pamanmu jawabannya, dia juga memberikan jawaban. Dan aku tahu bahwa jawabannya benar dan jawabanku mungkin hanya setengahnya yang benar. Akhirnya, dia marah padaku. Dia berkata, "Dengar, tidak ada lagi argumentasi!" Pamanku punya sebuah perpustakaan seperti masjid ini dan semua temboknya dijejali buku-buku. Dan paman duduk dilantai perpustakaan -tidak pernah disofa- ditemani secangkir teh didepannya.
Dia berkata, "Uskup besar, masuklah. Aku tidak bisa berdiri. Pergi dan hitunglah 25 buah lemari buku yang ada dan pergilah ke lemari buku ke-25. Disana ada 6, 7 lapis buku dan ambillah yang ke-15, halaman 552, dan baris 27. Kau akan melihat apa yang aku beritahukan padamu. Sang uskup besar pergi dan menemukannya.
Jadi, hal itu terlintas dipikiran. Bagaimana paman mengingat buku itu yang ada dilemari yang mana, lapisan ke berapa, halaman dan baris ke berapa?
Jadi, uskup mengambil buku dan menemukan halaman dan baris yang dimaksud. Dibuku itu tertera, apa yang sebelumnya paman katakan.
Kami membicarakan mengenai `ilm. Kalian tidak butuh seorang guru. Allah SWT memberimu sesuatu yang tidak Dia berikan kepada yang lain. Itulah mengapa dalam hadist Rasulullah SAW, "Hamba-Ku terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan ibadah nawafil, sehingga Aku pun mencintainya. Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi) penglihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepadaku-Ku, sungguh, akan Aku beri dia, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku benar-benar akan melindunginya.[1]
Jadi, kami mendorong paman agar menemui Grandsyaikh. Dan akhirnya paman setuju. Kami menyetir selama 3 jam dari Beirut ke Damaskus. Paman tidak senang pergi bepergian, paman tidak pernah meninggalkan bantal alas duduknya. Paman selalu ada dilantai dengan buku-buku dan tehnya.
Pada umur 5 tahun, paman sudah menghafal seluruh Kitab Suci al Qur'an di Mesir. Pada umur 7 tahun, paman duduk didalam ban truk dan meluncur dari bukit. Mereka datang dan bertanya fatwa kepada paman. Paman berkata, "Biasanya aku sedang duduk/meluncur dalam ban."
Jadi paman pergi bersama kami, dia tidak berkata apa-apa dan hanya menggumam. Sampai kami tiba -dan kami tidak memberitahu paman bahwa ada lereng yang harus didaki- dan paman pun menggumam sepanjang jalan. Dan Grandsyaikh sedang menunggu didepan pintu meskipun kami tidak memberitahu beliau akan berkunjung dan membawa paman. Dan kami semua berjumlah 5 orang. Grandsyaikh memeluk paman dan berkata, "Masuklah." Dan kemudian Grandsyaikh membuka sebuah sohbet dan bicara selama 3 jam. Ketika paman datang bersama kami, paman menggumam. Ketika kami menyetir, paman menggumam. Saat berjalan, paman menggumam. Namun ketika Grandsyaikh mulai bicara, paman berhenti menggumam. Paman terkesima. Ketika Grandsyaikh selesai bicara, paman mendatangi dan mencium tangan Mawlana. Seorang ulama seperti itu, memeluk dan mencium tangan seorang syaikh -itu sangat berarti.
Kemudian Grandsyaikh menawarkan makanan dan berkata, "Kau tidak bisa pergi." Paman makan dan kemudian saat kami hendak pulang, paman mencium kaki dan tangan Grandsyaikh. Untuk ulama saat ini, mencium kaki adalah masalah besar, mereka sebut itu bid'ah. Begitu juga untuk pamanku, mencium kaki itu adalah masalah yang sangat besar.
Jadi, paman berkata dalam perjalanan kembali ke Beirut, "Aku sudah membaca ribuan buku." Dan hati paman bagaikan sebuah mesin fotokopi, apapun yang paman baca, paman mengingatnya.
Paman melanjutkan, "Ada 7 buah pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh ulama Muslim dimasa lalu. Aku menaruh pertanyaan ini dipikiranku bahwa itulah yang akan aku tanyakan kepada beliau dan untuk memojokkan beliau agar memperlihatkan bahwa aku lebih tahu darinya."
"Dan saat aku datang, beliau mulai bicara dan tidak memberikan aku kesempatan untuk bertanya. Dan beliau membawa jawaban atas ketujuh pertanyaan dalam pembicaraannya dan memberikan jawaban untuk pertanyaan itu seakan-akan tidak ada artinya bagi beliau." Paman meneruskan, "Pada tiap kata yang beliau sampaikan kepadaku, aku dapat menulis sebuah buku. Aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti beliau."
Ketika Allah SWT hendak memberikan 'ilm, ma'rifah, Dia memberi. Hal itu tidak datang dengan belajar. Kalian memperoleh sesuatu namun terbatas. Namun kalian harus belajar, sebagaimana perintah pertama dalam Qur'an yaitu "Iqra!" Dan Rasulullah SAW pernah berkata, "Timbalah ilmu hingga ke negeri Cina." Hal ini mempunyai 2 makna. Timbalah ilmu dimanapun kau bisa menemukan ilmu. Dan makna lainnya adalah: carilah ilmu dan teruslah mencari; bahkan bila perjalanan yang ditempuh begitu jauh, janganlah lelah. Carilah cinta Allah SWT, carilah cinta Rasulullah SAW. Carilah cinta Awliyaullah. Jangan berkata, "Ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menampungnya. Terlalu banyak masalah. Terlalu banyak kesulitan."
Tentu saja ada banyak kesulitan. Kalian hidup di kehidupan yang penuh dengan kesulitan.
Apakah Sayyidina 'Isa tidak berada dalam kesulitan? Apakah Sayyidina Musa tidak berada dalam kesulitan? Apakah Sayyidina Muhammad SAW tidak berada dalam kesulitan? Ya, Rasulullah SAW bersabda, "Akulah Nabi yang paling disiksa oleh sukunya sendiri."
Ya, ada rintangan-rintangan. Dan rintangan ini berbuah pahala. Apakah Allah SWT menghukum Sayyidina Muhammad SAW dengan kesulitan-kesulitan itu, atau justru Allah SWT mengangkat beliau? Jadi Allah SWT memberi dan mengajari Awliyaullah. Jagalah hati kalian dengan zikrullah, apakah yang pertama-tama akan kalian peroleh? Pengetahuan tentang sesuatu. Ketika kalian tahu pengetahuan, maka pengetahuan akan mengarahkan kalian untuk memahami kebesaran pencipta kalian lalu kita akan tiba di tingikat ketiga yaitu, Maqam at-Tauhid. Pemahaman sejati mengenai Ke-Esa-an Allah SWT. Kemudian ketika kalian mengucapkan laa ilaaha illa-Allah maka insya-Allah diterima namun kita memohon kepada Allah SWT untuk mengubah dari yang imitasi ke yang asli.
Ketika Awliyaullah mengucap laa ilaaha illa-Allah, mereka berada di Hadirat ilahiah; itulah arah mereka. Menyaksikan bahwa tidak ada Rasul penghabisan kecuali Sayyidina Muhammad SAW. Menurut kalian jika kalian mengucapkannya dengan hati yang tulus, apakah Allah SWT tidak akan melimpahkan pengetahuan ke hati kita, apakah Sayyidina Muhammad SAW tidak akan melimpahkan pengetahuan ke hati kita; apakah syuyukh tidak akan melimpahkan pengetahuan ke hati kita?
Pada saat itu, kita akan memahami makna ketulusan: Surat al-Ikhlash. Itu artinya kalian tulus terhadap Tuan kalian yang Maha Esa, Dia tidak membutuhkan siapa pun dan Dia bergantung pada segala sesuatu dan Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan kemudian kalian paham maqam at-tauhid. Lalu kalian tahu bahwa kalian bergantung kepada Allah SWT. Itulah Maqam at-Tawwakul, bergantung. "Tawakaltu `ala-Allah - Engkau-lah yang membantuku, ya Allah! Aku pasrahkan segalanya kepada-Mu!"
Jadi, hal itu membawa kalian dari Maqam al-`Ilm ke Maqam al-Ma`rifah ke Maqam at-Tauhid dan kemudian ke Maqam at-Tawakul dan kemudian ke maqam kelima yaitu, Maqam `Iraad `Amman Siwa - meninggalkan segalanya kecuali Allah. Alihkan wajah kalian dari segala sesuatu kecuali Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Semoga Allah SWT membimbing dan mengarahkan kita.
Itulah mengapa Allah SWT berfirman, "Dawam al-dzikri sababan li dawam al-khair fii ad-dunya wal-akhira."
Itulah yang Rasulullah SAW berikan kepada seorang sahabat saat dia berkata kepada Rasulullah, "katsurat 'alaya syari'a al-islam – aturan-aturan Islam jadi terlalu banyak bagiku, berikan aku sesuatu yang dapat aku lakukan…"
Rasulullah SAW menjawab sahabat itu, "Jagalah lidahmu dengan mengingat Allah."
Zikrullah menyelamatkan dan membawa kita kepada zikr an-Nabi (SAW). Wa min Allah at-Taufiq, bi hurmatil habib al-Fatiha.
Semua hujan ini berasal dari badai itu. Apa yang akan mereka lakukan saat terjadi zilzala (gempa bumi)? Allah SWT dapat mengirimkan apa saja, kapan saja. Kita mohon kepada Allah SWT agar melindungi kita semua.
Sumber :
milis muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com
posted by Sri Rahayu Handayani