Selasa, 02 Juni 2009

Pembimbing Spiritual dalam Penyucian Diri Bagian II

Pembimbing Spiritual dalam Penyucian Diri Bagian II
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani
Kamis, 10 April 2008
Zawiyah Oakland, CA US

Mursyid at-Tazkiyya


A`udzu billahi min asy-syaitaan ir-rajim

Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahim

Nawaytu'l-arba`in, nawaytu'l-`itikaaf, nawaytu'l-khalwah, nawaytu'l-riyaada, nawaytu's-suluuk, nawaytu'l-`uzlah lillahi ta`ala fii hadza'l-masjid

Pada pertemuan sebelumnya, kita membicarakan tentang Pembimbing Spiritual dalam Penyucian Diri, mursyid at-tazkiyyah, bahwa dialah yang telah menyucikan dirinya sendiri dan dia diberik ijin untuk menyucikan para pengikutnya. Dan inilah tahapan ke-2 atau tingkat ke-2 dari mursyid, disini ada 4 buah tingkat mursyid dan tingkat tertinggi adalah yang ke-4.

Jadi, kami telah menjelaskan beberapa keahliannya dan kita lanjutkan hari ini dengan berkata bahwa "dia sudah tahu semua awliyaullah, semua hamba Allah swt yang alim dan tulus. Mereka adalah pewaris para nabi, dan sebagaimana kita ketahui bahwa ada 124.000 nabi seperti yang disebutkan oleh ibn 'Abbas dalam Tafsir Surat al-'Araaf.

Dan, mada dari itu tiap wali mewarisi dari satu nabi. Setiap wali mewarisi dari satu nabi. Karena seluruh nabi ini diutus sebelum Sayyidina Muhammad (saw). Meskipun Allah swt berfirman kepada mereka, dalam Kitab Suci al Qur'an, bahwa jika sang Nabi )saw_ datang pada masamu, kau harus menjadi pengikutnya.

وَإِذْ أَخَذَاللّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّجَاءكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُقَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُواْ أَقْرَرْنَاقَالَ فَاشْهَدُواْ وَأَنَاْ مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

Wa idz akhadza Allahu miitsaaqan nabiyyiina lamaa aataitukum min kitaabiw wa hikmatin tsumma jaa-akum rasuulum mushaddiqul li maa ma'akum la tu'minunna bihii wa la tanshurunnahuu qaala a aqrartum wa akhadztum 'alaa dzaalikum isrii qaaluu aqrarnaa qaala fasy haduu wa ana ma'akum minasy syaahidiin.

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu". [Ali 'Imran (3):81]

Jadi, mereka semua sudah diutus sebelumnya dan sang Nabi (saw) adalah Nabi Penghabisan dan membungkus semuanya bersama-sama.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيوَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

Al yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu 'alaikum ni'matii wa radhiitu lakumul islaamu diina.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. [Al-Maa-idah (5):3]

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu," Allah swt berfirman dalam Kitab Suci al Qur'an, dan itu ditujukan kepada sang Nabi (saw) dan itu khitaab, ditujukan, kepada sang Nabi (saw) dan saat Qur'an mengatakan sesuatu, maka itu mempunyai makna yang dalam. Itu bukanlah seperti yang kita terima saat ini, bahwa "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu." Tetapi itu sebuah pengumuman bahwa Kami menyempurnakan agama untuk seluruh zaman dan itu ditujukan kepada semua yang hidup sebelumnya- bahwa Sayyidina Muhammad (saw) adalah penyempurna agama untuk seluruh zaman. Agamamu sebelumnya belum sempurna. Itu membutuhkan Kitab Suci al

Qur'an agar sempurna. Agama membutuhkan Sayyidina Muhammad (saw) agar sempurna. Itulah mengapa agama-agama datang setelah yang lainnya. Selalu datang dulu satu agama sebagai contoh kau punya seorang kakek, siapakah yang akan menjadi keturunannya? Ayahmu, yaitu putranya dan kemudian kau akan mewarisi dari ayahmu. Jadi itu datang satu per satu.

Jadi, apa yang kakekmu telah akumulasikan tidaklah seperti apa yang telah kau akumulasikan. Kau mengakumulasi lebih daripada kakekmu, karena segalanya datang kepadamu. Kemudian harta dan barang-barang berharganya berakhir ditanganmu dan kemudian barang-barang itu berakhir ditangan seorang setelahmu.

Jadi sebagaimana Sayyidina Muhammad (saw) adalah awal dan pada saat bersamaan beliau adalah yang terakhir. Awalnya, Allah swt memberikan kepada sang Nabi (saw), dari Allah swt ke nabi, dari nabi ke anbiyaullah. Itu harus mempunyai garis silsilah, tidak bisa loncat.Bahkan seorang nabi tidak dapat melompat, nabi tersebut harus mempunyai murid tertentu. Itulah kenapa Allah swt berfirman, "Jika sang Nabi (saw) diutus pada masamu, kau akan mengikuti dia."

Jadi, Allah swt mengutus sebuah pesan kepada seluruh nabi bahwa tanpa Sayyidina Muhammad (saw) agama belumlah sempurna.

Itulah sebuah pesan dari Allah swt bahwa Sayyidina Muhammad (saw) adalah seorang yang menyempurnakan agama. Itulah mengapa Allah swt berfirman,

عن ابن عباس مرفوعا من حديث، صدره‏:‏ إنه لم يكن نبي إلا له دعوة قد تنجزها فيالدنيا، قد اختبأت دعوتي شفاعة لأمتي، وأنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر، وأناأول من تنشق عنه الأرض ولا فخر، وبيدي لواء الحمد ولا فخر، آدم فمن دونه يومالقيامة تحت لوائي ولا فخر‏.

…ana Sayyid waladi Adam yawm al-qiyamati wa la fakhr… Adam faman duunahu yawm al-qiyamati tahta liwaii wa la fakhr.

Seluruh nabi akan datang kepada sang Nabi Muhammad (saw) pada Hari Pembalasan. Mengapa mereka akan datang kepada beliau? Karena dengan Sayyidina Muhammad (saw) semuanya menjadi sempurna. Jadi, penyempurnaan agama artinya bahwa bobot itu menjadi sempurna oleh sang Nabi (saw), tetapi sebelum sang Nabi (saw) diutus berarti 124.000 dikurang satu. Karena beliaulah yang terakhir. Jadi, seluruh nabi ini, seluruh pengetahuan mereka berakhir dimana? Di Sayyidina Muhammad (saw). Dan beliaulah yang ada dipuncaknya. Jadi, sang Nabi (saw) telah memberi kepada para Sahaabat berdasarkan pada tingkatan mereka, kapasitas mereka dari nabi-nabi yang berbeda.

Itulah mengapa sang Nabi (saw) bersabda, "Kaum Ulama dari Ummah ku bagaikan nabi-nabi Bani Israel -'Ulama Umattii ka anbiya Bani Israel." Kau harus menyatukan semuanya bersama-sama. Bukan para ulama normal, tapi ulama yang merupakan mursyid, mereka bagaikan para nabi Bani Israel. Bukan dalam hal kedudukan mereka. Karena mereka adalah para nabi. Dan Sahaaba pun mempunyai kedudukan, dan ulama mempunyai kedudukan berbeda-beda. Tapi dalam pengetahuan mereka adalah pewaris, mereka akan mewarisi dari para nabi berbeda sesuai tingkat yang berbeda pula.

Jadi kaum ulama yang artinya awliya, yang merupakan orang yang alim dan tulus -pembimbing spiritual- akan mewarisi dari para nabi yang berbeda. Yang tertinggi akan mewarisi dari sang Nabi (saw).

Jadi itulah kenapa al-Busayri berkata, "kullun min Rasulullah multamisan - Semua orang mengambil dari sang Nabi (saw)." kullun artinya? Bahwa semua orang artinya termasuk para nabi. Kullun itu bukanlah berarti kelompok orang tapi artinya semua orang, sebelum atau sesudah, mereka mencari pertolongan Sayyidina Muhammad (saw).

Jadi dia berkata mursyid at-tazkiyyat, mursyid yang menyucikanmu dari kehancuran egomu, kau tahu tunggangan kita adalah seekor kuda dan ego hari ini sedang menunggangi kita dalam apapun yang ego ingin lakukan.

Jadi mursyid itu punya kekuatan atas egomu untuk mengeliminasi yakuunu lahu fihi malakatu 'ilmu jami' al-awliya. Dalam dirinya dia adalah ahlinya, malaka dalam bahasa Arab, yaani dia punya sebuah kekuatan bahwa dia akan tahu semua pengetahuan dari semua awliyaullah, apa yang mereka tahu. Karena tiap wali mewarisi dari sang Nabi (saw). Jadi, keempat tingkat mursyid ini ada di garis silsilah dari sang Nabi (saw) secara langsung, dimana kita sedang membicarakan mengenai tingkat kedua.

Mursyid mampu menerima apapun yang ada dalam hati orang alim dan para wali, dia mampu untuk menariknya keluar dan melihatnya. Dan itu artinya dia mampu untuk mengerti tiap wali dan mengetahui nama tiap wali dari nabi mana dia diwarisi.

Dan itulah mengapa kita menjelaskan mengenai grand dari Grandsyaikh Syaikh Syarafuddin ad-Daghestani, dan bagaimana beliau mengetahui rahasia Surat al-An'am dan beliau menarik keluar nama-nama awliyaullah tersebut karena beliau adalah seorang pembimbing, seorang mursyid, dan mereka mewarisi rahasia tiap nabi.

Beliau tahu nama-nama mereka. Itu tidak mudah. Beliau tahu nama mereka tapi bukan nama yang diberikan oleh orang tuanya tapi nama yang Allah swt sudah berikan kepada mereka dalam Hadirat Ilahiah. Itulah 7 buah nama yang Allah swt sudah berikan kepada tiap manusia. Fii yawma alastu bi rabbikum qaaluu bala.

Namamu tergantung kepada 7 buah tingkatan yang berbeda.

Jadi, ketika grand Grandsyaikh Syarafuddin menarik keluar nama-nama tersebut. Saat beliau menariknya, hal itu sangatlah berat bagi hati beliau dan setelah 3 bulan beliau memberitahukan Grandsyaikh Abdullah bahwa beliau meninggalkan dunya ini dan beliau wafat setelah itu.

Jadi, sang Syaikh di tingkat kedua harus mengetahui semua nama-nama awliya ini dan dia harus tahu semua pengetahuan yang mereka terima dari tiap wali. Itu artinya dia menemani mereka semua. Seakan-akan dia dapat bersamamu dan kamu dan kamu semua pada waktu bersamaan. Dia bisa menjadi 124.000 buah gambaran, refleksi, muncul dihadapan semua orang yang alim ini pada waktu bersamaan berbicara dengan mereka.

Irsyad bukanlah sesuatu yang gampang seperti kita melihatnya di pamflet-pamflet yang mereka sebarkan. 'Allama, 'allama, mufti, pir, baru kemudian nama mereka. Hazrat, 'allama, mufti, Itu artinya mereka menjadi lebih tinggi daripada mursyid.

"Dan dia harus menaikkan para pengikutnya hingga sampai ditingkatnya sendiri."

Kau tidak bisa mengatakan sesuatu kepada para pengikutmu dan kau memberitahukan mereka sesuatu yang membuat mereka -kau tahu saat seseorang lapar dan dia makan didepanmu- Apa yang akan terjadi kepadamu? Bukan hanya rasa lapar. Sebelum makan, perutmu akan mulai bergerak dan saliva (air liur) akan menetes dari mulutmu.

Jadi, ketika wali mengatakan sesuatu yang mendorong murid itu memiliki hasrat untuk mencapai tingkat tersebut. Jadi, wali itu mulai memberikan syahwat untuk memilikinya. Itulah kenapa sang Nabi (saw) mulai mendeskripsikan tingkat-tingkat surga, itulah kenapa semua Sahaabat siap untuk memberikan hidup mereka bagi sang Nabi (saw). Kau harus memberi, saat wali menjelaskan tingkat-tingkat surga ini dan tingkat-tingkat wali yang berbeda, berikan mereka rasa agar ada keinginan untuk naik ke maqam-maqam tersebut. Itulah tugas mursyid. Itu artinya pasa hari kematian, mereka akan melihat semua yang sudah siap sebelumnya bagi mereka. Seperti orang-orang dimasa sekarang pada hari kematian, ketika ayah sekarat dan dia mempunyai sekotak penuh perhiasan. Dia akan memberikan permata-permata spesialnya kepadamu atau sejumlah uang pada waktu yang spesial. Tidak selama masa hidupnya. Bagaimana anak laki-laki atau anak perempuan siap untuk menerimanya, mereka akan senang menerimanya.

Jadi ketika murid wafat, sang wali harus menghadiahkan muridnya dengan seluruh harta simpanan yang sang Syaikh bicarakan sewaktu di dunya dan murid tersebut mendengarnya, mereka harus memberikannya pada saat kematian.

Jadi Grandsyaikh pernah berkata, "Ketika salah seorang muridku meninggal dunia, aku diberikan kewajiban oleh sang Nabi (saw) untuk muncul kepada muridku pada detik-detik kematian dan untuk talqinuh, untuk diletakkan pada lidahnya, talqin, syahadat. Sayyidina Izrail tidak akan menerimanya jiwanya kecuali dengan kehadiran sang Nabi (saw) dan dengan ijin sang Nabi (saw) mereka memanggil permohonan sang Nabi (saw) dan tergantung pada tingkat murid, kemudian sang Nabi (saw) begitu … yaani beliau (saw) tidak akan membiarkan satu pun dari Ummahnya meninggal dunia tanpa kehadiran beliau (saw) untuk memastikan bahwa orang tersebut masuk Surga.

Jangan pikir kalau Allah swt telah mengenakan sang Nabi (saw) dengan rahmat tersebut tanpa pamrih. Sang Nabi (saw) tidak akan pernah membiarkan para pengikutnya meninggalkan dunya, siapapun yang telah mengucap la ilaha ill-Allah Muhammadun Rasulullah, Izrail akan menunda sampai sang Nabi (saw) muncul dihadapan dia dan pengikut itu akan melihat beliau (saw) secara langsung dan sang Nabi (saw) akan mengambil tanggung jawab dihadapan Allah swt untuk membersihkan orang itu dan mereka membawa jenazahnya untuk dikuburkan.

Pernah ada seorang laki-laki di zaman sang Nabi (saw) yang tidak disukai oleh orang. Dia,… kami tidak ingin menjelaskan bagaimana laki-laki itu tapi dia orang yang jahat. Ketika bulan Rajab datang, dia mengunci diri didalam kamarnya dan mempunyai sebuah do'a yang dibacanya, dia terus membaca do'a itu siang dan malam dan do'a itu adalah Allahumma innii astaghfiruka min kulli ma tubtu 'anhu ilayka tsumma 'udtu fiih. …. fa innamaa 'abdin min 'ibaadika aw 'amatin min 'imaa-ika…[1] dan seterusnya.

Jadi, tiap bulan Rajab dia menutup pintu dan membaca do'a tersebut. Tidak seorangpun menyukainya. Tapi dia membaca do'a itu. Jadi, saat dia meninggal dunia, mereka tidak menguburnya di pemakaman Muslim, anak-anak mengambil jenazahnya dan melemparkan jenazah tersebut ke dalam sebuah sumur, bukan sebuah sumur yang sangat dalam tapi sumur kering. Dan setelah mereka melemparkannya, Sayyidina Jibril datang kepada sang Nabi (saw) dan berkata, "Oh Muhammad (saw), Allah swt mengirimkan salaam kepadamu dan berpesan, hari ini salah satu awliya-Ku meninggal dunia. Pergi dan mandikan dia serta berikan dia wudhu. Kafanilah dia dan kuburkan."

Jadi, para Sahaabat sangat terkejut.Dan sang Nabi (saw) pun pergi, mengambil jenazahnya dan membersihkan serta memandikannya dan meng-kafani dan kemudia mereka pergi ke Jannat al-Baqi' dan sang Nabi (saw) jalan dengan berjinjit, tidak berjalan sempurna.Dan Sayyidina Abu Bakr (ra) pernah berkata, "Wahai Nabi! Ini aneh." Dan sang Nabi (saw) menjawab, "Tidak, karena tidak ada satu tempatpun untuk kakiku yang tidak ditempati para malaikat ditempat ini."

Jadi, jangan pikir tidak ada rahmat. Ada rahmat bagi semua orang. Jangan pikir sesuatu yang sudah kau lakukan atau dilakukan oleh anak laki-lakimu atau anak perempuanmu yang tidak akan diampuni. Ketika kau bertaubat, Allah swt akan mengampuni.

Karena dia meninggal dunia di bulan Rajab, dibulan dia mengucilkan diri dan membaca do'a tersebut di bulan Rajab.

Jadi, para Sahaabat terkejut dan bertanya kepada sang Nabi (saw). Dan Jibril datang dan berkata, "Tanyalah anak perempuannya." Tentu saja sang Nabi (saw) tahu tetapi beliau (saw) harus memberi penjelasan kepada para Sahabat. Jadi, beliau (saw) berangkat dan bertanya kepada anak perempuan laki-laki itu dan dijawab, "Ayahku pernah berkata, 'Ada 12 bulan dalam 1 tahun, semua bulan itu buat aku tapi satu bulan untuk Allah.'"

Orang itu tadinya seorang pembajak, pencuri, perampok, mencari orang-orang yang melintas dihutan dan mencuri harta mereka, kemudian dia usir. Inilah pekerjaannya. Satu hari dia mencuri do'a tersebut dari seseorang. Dia berkata, "Oh, itu bagus dan datang tepat pada waktunya; aku akan membacanya." Do'a tersebut dari seorang wali, mungkin seorang Sahabi. Jadi, dia membaca do'a tersebut. Sebelas bulan untuknya dan 1 bulan untuk Allah swt. Karena do'a itu, artinya dia bertaubat, itulah maksudnya. Karena do'a itu, Dia mengirimnya ke surga dan menjadikannya seorang wali.

Bagaimana menurutmu dengan dirimu sendiri? Kau melakukan solat, berpuasa dibulan

Ramadhan, kau percaya kepada sang Nabi (saw). Kau berusaha menyucikan dirimu sendiri dan berusaha menggapai maqaam al-Ihsan dan mengikuti awliya Allah dan bimbingan mereka. Apa yang lebih baik dari itu. Jadi, Allah swt tidak akan membiarkan mereka untuk meninggalkan dunya tanpa mengucap syahadat dihadapan sang Nabi (saw). Dia menjadi saksi pada Hari Kiamat. Jadi, beliau (saw) tidak akan meninggalkan satu Ummahy pun tanpa disaksikan syahadat yang diucapkannya.

وَاعْلَمُواأَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ

Wa'lamuu anna fiikum Rasulullah.

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. [Al-Hujuraat (49):7]

Jadi, sang Nabi (saw) syahid atas kita.

Jadi, ini semua untuk menjelaskan bagaimana mursyid harus membawa para muridnya sampai pada tingkat dirinya. Karena dia sudah menjadikan saliva (air liur) mereka keluar, artinya hasrat mereka untuk keluar melalui cerita-cerita indah yang dia ceritakan kepada mereka mengenai haqiqat. Jadi, dia harus menaikkan mereka hingga ke tingkat dirinya.

Dia harus punya kekuatan sehingga dia bisa membawa muridnya saat dia melihat murid tersebut pada satu kesempatan, karena sang Syaikh melihat muridnya selama 24 jam setidaknya 3 kali. Dimanapun kau berada, kau mengambil bay'at dari Syaikhmu, misalnya Mawlana Syaikh Nazim, biarkan kami bicara mengenai thariqah ini sekarang. Mungkin saja syuyukh thariqah lain berkata apa yang ingin mereka katakan. Jadi, dalam thariqah ini Mawlana Syaikh bertanggung jawab dihadapan sang Nabi (saw) untuk melihat apa yang kau lakukan dan melihatmu sebanyak 3 kali.

Dan ketika dia melihatmu, dia tidak memberimu permen. Dia berusaha untuk memberimu sesuatu untuk dilihat jika kau sabar atau tidak sabar.

Kau datang ke sini dan duduk disini.

Jadi beliau suka, kini Mawlana Syaikh Nazim sedang melihat kita, itulah kenapa dia menempatkan 2 orang pembuat masalah in bersama-sama untuk melihat apa yang akan terjadi. Jadi kau duduk disini, tidak apa-apa.Jadi, 3 kali dalam sehari Mawlana Syaikh harus melihatmu dan 3 kali ketika dia melihatmu, dia menaikkan tingkatmu. Dan beliau harus membawanya pergi, sebagaimana beliau katakan daf` al-adawat al-arba`a. Beliau punya kekuatan untuk menarik keluar 4 musuh yang berada bersamamu. Apakah keempat musuh itu? yaitu nafs, dunya, hawa, shaytan. Nafs adalah ego, dunya adalah hasrat untuk dunia material, hawa adalah hasrat, dan setan adalah Setan. Semua orang membawa ini dalam diri. Maqaam al-Ihsan adalah mampu untuk menyucikan dirimu sendiri dari kendali 4 musuh itu. Untuk menyingkirkan pengendalian itu dari diri. Kini ke-4 musuh itu mengendalikan kita. Jadi, apakah tugas mursyid? Untuk membuatmu mengendalikan 4 musuh tersebut. Jadi, itulah kenapa beliau harus melihatmu selama 3 kali dalam satu hari.

Dan dengan membawa ke-4 musuh itu dari dirimu, beliau harus melemparkan az-zuhd at-taam ke dalam hatimu. Tingkat tertinggi zuhd, di dunya.Seperti pertapaan (asceticism) Ibrahim ibn al-Adham, itulah salah seorang awliyaullah terbesar yang dimakamkan di Damaskus. Itulah apa yang harus dipastikan oleh mursyid dan memastikan para pengikut menundukkan mata mereka dari mencintai dunya.

Kini, kita tidak bisa menundukkan mata kita dari mencintai dunya. Beberapa orang yang berada dalam thariqah, dalam thariqah-thariqah Sufi, dan terutama yang mengikuti langkah-langkah atau mengikuti Mawlana Syaikh Nazim, beliau melemparkan untuk menundukkan cinta kepada dunya. ke dalam hati mereka. Itulah kenapa kau melihat banyak dari mereka merendahkan diri (tawadhu'). Mereka tidak melihat pada gedung-gedung tinggi. Kau bertanya kepada mereka apa yang mereka lakukan? Saya seorang tukang. Saya dokter. Tapi dia dermawan; dia memberikan uangnya di jalan Allah swt. Dia melakukan yang terbaik kemudian mendermakan di jalan Allah swt. Dia seorang direktur bank, tapi dia berderma di jalan Allah swt.

Jadi, kau bisa melihat diantara para murid ini dari mursyid pada tingkat-tingkat berbeda. Cinta kepada dunya telah diturunkan dari mata mereka. Dan itu tergantung pada tingkat murid.

Dan dia harus mempunyai kekuatan untuk menyucikan diri -itulah kenapa kita memanggilnya pembimbing spiritual dalam menyucikan diri- dia harus menyucikan kemalasan muridnya. Kau tidak bisa menjad zaahid dan malas. Karena hari ini mereka berpikir kalau zaahid artinya menjadi malas. Duduk dipojokkan. Jangan, kau harus aktif, melakukan segalanya dan melakukan awraadmu.

Yang itu, kau bisa melihanya melakukan sesuatu sepanjang hari. Tidak pernah berhenti. Tanpa bertanya kepada siapa-siapa dia menemukan sesuatu untuk dilakukan. Yang ini juga sama. Tanpa bertanya kepada siapa-siapa.

Tapi dalam hal berbeda.Allah swt telah memberikan semua orang keahlian berbeda.

Dan juga pebimbing khusus penyucian diri harus menyingkirkan semua jenis imajinasi dan halusinasi dan gosip terhadap orang lain dari hatinya. Mursyid harus membersihkan muridnya dari gosip dan halusinasi. Dan mursyid harus membimbing dalam lingkup Syariah. Kau tidak boleh membimbing siapa saja diluar Syariah. Ini tidak bisa diterima. Jika seseorang adalah mursyid dan tidak mengikuti Syariah maka kami menolaknya. Mursyid harus tunduk kepada Syariah.

Jadi, istrinya harus mengikuti Syariah dan anak-anaknya harus mengikuti Syariah. Kini, jika seseorang dari keluarga dekatnya tidak melakukan hal ini, kemudian dia harus meninggalkan anggota keluarganya yang tidak mengikuti Syariah dan berkata, "Aku tidak bersalah atas apa yang dilakukannya." Setidaknya, para muridnya mengetahui hal itu. Sehingga menjadi jelas bagi para muridnya.

Seperti Sayyidina Jamaluddin al-Ghumuqi al-Husayini, satu kali hendak pergi ke e masjid dan Allah swt mengirimkan kepadanya seorang istri yang selalu memberinya kesulitan. Selalu. Jadi, pada satu Jumu'ah, dia akan pergi ke masjid, mengenakan pakaian yang bagus, sebagaimana yang Allah swt firmankan, khudhuu zinatakum inda kulli masjid,…kenakanlah pakaian terbaikmu untuk pergi ke masjid dan juga hati yang baik. Bukan hanya secara fisik, tapi juga spiritual setiap ke masjid.

Jadi, istrinya bertanya, "Kemana kau akan pergi?"

Dia menjawab, "Aku akan pergi ke masjid."

Istrinya berkata, "Jangan, tetaplah bersamaku."

Dia menjawab, "Ini hari Jumu'ah, aku harus pergi ini adalah Syariah Allah."

Jadi, beliau tetap diam dan meninggalkan rumah. Tidak mendebat. Dan ketika beliau kembali ke rumah, istrinya membawa air bekas cucian dan menumpahkan air itu ke atas kepala beliau. Itulah wali Rantai Emas. Itulah mengapa Grandsyaikh pernah berkata, bahwa dari setiap 1.000 wali, mungkin hanya 2 orang dari keluarga mereka yang paham pentingnya suami mereka dan sisanya tidak mengerti. Para istri tidak tahu bahwa suaminya wali. Seperti wanita ini, istrinya, menumpahkan air kotor. Dan bukan hanya istri namun juga anak-anak tidak tahu bahwa ayahnya seorang wali. Itulah kenapa mereka berkelakuan seenaknya.

Jadi, tugas wali adalah untuk memberitahumu, itulah mengapa ada banyak pir yang memanggil diri mereka sendiri dengan: 'allama, Hazrat, mufti, pir, sayyid, para istri mereka, mereka bukan siapa-siapa. Tapi orang-orang sudah .. apa lagi yang bisa kau katakan, orang-orang sudah terpesona dengan cara-cara mereka tetapi orang-orang ini tidak benar-benar mempunyai sebuah hubungan, kekuatan sepiritual. Jadi, lakukan saja apa yang mereka suka.

Jadi, masalahnya adalah bahwa kau menjadi seorang mursyid, artinya kau harus membawa semua jenis sifat yang merupakan sifat-sifat yang berat dan jenis kedisiplinan. Tapi kita mohon kepada Allah swt untuk membimbing kita dan membimbing semua orang dan untuk membimbing tiap mursyid yang percaya kalau dirinya adalah mursyid tapi tidak menggapai apapun dari semua tingkat ini bahkan untuk mencapai tingkat-tingkat ini.

Bi hurmatil-habib, bi-hurmatil Fatiha.

[1] Bismillah ar-Rahman ar-Rahiim

Allaahumma innii astaghfiruka min kulli maa tubtu `anhu ilayka tsumma `udtu fiih/wa astaghfiruka min kulli maa 'arad-tu bihi wajhika fa-khaalathanii fiihi maa laysa fiihi ridhaa-uk/wa astaghfiruka li-ni`amallatii taqawwaytu bihaa `alaa ma`shiiyatik/wa astaghfiruka minadz-dzunubillatii laa ya`lamahu ghayruka wa laa yath-thali`u `alayhaa ahadun siwaak/wa laa yasa`uhaa illa rahmatuka wa la tunjii minhaa illa maghfiratuka wa hilmuk/laa ilaha illa-Anta, subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Allaahumma innii astaghfiruka min kulli zhulmin zhalamtu bihi `ibadak/Fa innamaa `abdin min `ibaadika aw `amatin min `imaa-ika zhalamtu fii badanihi aw `irdhihi aw-maalihi fa-a`thihi min khazaa'inikal-latii laa tanqush/wa as-aluka an tukrimanii bi-rahmatikal-latii wasi`at kulla syay-in wa laa tuhiinanii min `adzaabika walaa ta`thiinii maa as-aluka fa-innii haqiiqun bi-rahmatika ya arhamar-Raahimiin/wa shalla-Allahu `alaa Sayyidinaa Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin/wa laa hawla wa laa quwatta illa billahil-`Aliyyil-`Azhiim



Sumber :
milis muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com
posted by Sri Rahayu Handayani

Arsip Blog