Pembimbing Spiritual dalam Penyucian Diri Bagian I
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani
Rabu, 9 April 2008; 3 Rabi'ul Akhir 1428 H
Oakland, CA US Mursyid at-Tazkiyya
Salam 'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Jadi kita sudah sampai mana? Mursyid at-Tabarruk. Kini insya-Allah kita lanjutkan…
A`udzu billahi min asy-syaitaan ir-rajim
Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahim
Nawaytu'l-arba`in, nawaytu'l-`itikaaf, nawaytu'l-khalwah, nawaytu'l-riyaada, nawaytu's-suluuk, nawaytu'l-`uzlah lillahi ta`ala fii hadza'l-masjid
Seperti yang sebelumnya kita diskusikan bahwa ada 4 tingkat mursyid, aku akan membuatkan sebuah ringkasan. Ada jenis-jenis mursyid yang berbeda dan pada tiap tingkat, ada tingkat-tingkat berbeda, atau ada perbedaaan. Maqam-maqam dan tiap maqam mempunyai tingkatan-tingkatan berbeda.
Dan setiap kali kami berusaha untuk menjelaskan apa yang dikatakan oleh
Grandsyaikh Syaikh Abdullah dan Grandsyaikh Syarafuddin dan Mawlana Syaikh Nazim mengenai jadi seorang mursyid. Saat ini kau banyak mendengar apa yang orang-orang katakan, aku punya mursyid ini, dan mursyid ini, dan lain sebagainya. Dan mursyid-mursyid ini bisa jadi tidak mempunyai haqiqat/realitas bau seorang mursyid. Namun sayang sekali, kini orang-orang tidak tahu dimana mencari seorang mursyid. Mereka mendengar pidato seseorang dan menyukainya dan mempertimbangkan orang itu sebagai mursyid. Sebagian dari mursyid ini bahkan tidak mengindahkan Syariah, mereka tidak solat, tidak puasa dan …
Jadi, kami masuk ke diskusi mursyid at-tazkiyya, mursyid dalam penyucian dan menyucikan diri. Ketika kau bergerak dari satu tingkat ke lainnya, itu artinya kau sudah menyelesaikan semua yang ada pada tingkat sebelumnya. Seperti ketika kau pergi ke universitas dari sarjana muda ke sarjana. Artinya kau sudah menyelesaikan sarjanamu. Dan saat kau memulai PhD, kau telah menyelesaikan semua tingkat master.
Jadi, mursyid at-tazkiyya membawa semua apa yang telah kita sebutkan tingkatan-tingkatan yang ada di maqam pertama, mursyid at-tabarruk. Dialah mazhar al-jamal untuk semua maqam sebelumnya dan dengan begitu dia sudah dinaikkan dari mursyid at-tabarruk ke mursyid at-tazkiyya ada didalamnya, apapun yang ada pada mursyid at-tabarruk sudah dia warisi agar dapat naik ke maqam ke-2.
Apakah tugas pertama pada maqam ke-2? Apa yang harus dia lakukan adalah agar dia melakukan improvisasi sendiri. Karena meski mursyid, jika kita berkata orang ini adalah seorang pir atau mursyid, dia tidak perlu melakukan apa-apa hyanya bertemu dengan khalayak umum dan bicara kepada orang-orang. Tidak, dia punya kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan kepada mereka. Kewajiban pertama bagi mursyid at-tazkiyyat, artinya dia harus menyelesaikan seluruhnya apa yang ada dalam 4 sekolah pemikiran (4 mahzab), kesemuanya itu mereka ajarkan, dia harus mengambil dan mempelajarinya dan tidak melakukan sesuatu yang berlawanan dengan 4 mahzab. Bukan hanya untuk menyangkal satu mahzab, tapi keempat mahzab itu dan dia harus azimah dalam mahzab, bukan rukhsa. Kau harus mengambil jalan terberat bagi dirimu sendiri. Itu artinya dia harus memastikan bahwa pada tiap pergerakkan yang dilakukan, maka dilakukan dengan bijak. Dia tidak boleh mengatakan satu kata tanpa kebijaksanaan, dia tidak bisa bergerak satu gerakkan pun tanpa kebijaksanaan dan dia tidak bisa mencapai sesuatu tanpa kebijaksanaan. Segala sesuatu yang dilakukannya harus dilakukan didepan matanya.
Raas al-hikmatu makhafatullah - Takut kepada Allah atas 2 hal. Takut atas hukuman-Nya dan takut jauh dari cinta-Nya.
Dan niat buruk apapun yang datang ke pikirannya, dia dilarang melangkah ke tingkat itu. Dia harus memotong semua gosip yang datang ke hati seseorang. Khususnya ketika kau mulai solat, begitu banyak inspirasi, pikiran-pikiran buruk datang ke akal pikiran.. khususnya pada imam atau pada orang yang mengatakan saya seorang pir.
Dengar, aku menyebutkan kepada kamu kemarin kalau mereka mengadakan sebuah Milaad dimana tiap nama mereka adalah mufti, pir, 'allama, Mawlana allam al-Hasani al-Husayni. Untuk apa semua gelar ini? Untuk ego. Mengapa mereka menggapai tingkat irsyad? Jika mereka menggapai tingkat irsyad, maka mereka tidak pernah mencantumkan gelar itu didepan namanya, seperti 'allama. Aku tidak pernah melihat Mawlana Syaikh mencantumkan didepan namanya 'allam. Beliau hanya mencantumkan Syaikh. Dan beliau mencantumkan ash-Shami an-Naqsybandi, dan lalu khadim al-fuqara - pelayan bagi semua orang.
Jika kau tidak mencantumkan 'allama, mufti, pir mereka akan marah.
Tapi Grandsyaikh, ketika Grandsyaikh beliau akan wafat, dia memanggilnya, "Abdullah Effendi - itulah cara mereka memanggil." Hormatilah Nazim, Nazim Effendi." Tugas kita adalah untuk mengucap Sultan al-Awliya Mawlana Syaikh Nazim tapi ini bukan tugasnya; dia adalah Syaikhnya.
Jadi, Syaikh Syarafuddin memanggil Grandsyaikh, "Abdullah Effendi, putra yang dihormati." Karenanya Syaikh Syarafuddin, 3 bulan sebelum beliau meninggal, beliau memohon kepada sang Nabi (saw) dalam asosiasi/pertemuan awliyaullah agar beliau mampu mengambil sari dari Kitab Suci al Qur'an, agar sanggup mengambil sari nama-nama tingkat tinggi awliyaullah. Itu ada dalam 4 tingkat mursyid dan tingkat-tingkat wilayah lain - agar sanggup mengambil sari nama-nama mereka dari Kitab Suci al Qur'an. Dan ketika beliau menggolongkan nama-nama itu, beliau menarik keluar nama-nama 49 deputi Mahdi dan 50 khalifah dan beliau menarik nama a'immat al-ishraqiyuun, dan nama-nama dari Syuyukh al-Islam pada zaman Mahdi… dan nama 313 wali yang ada dikaki 313 Rasul, karena ada 313 rasul yang merupakan nabi dan rasul dan ada 313 ashaab Badr, para sahabat sang Nabi (saw)di Badar yang turut mendukung beliau (saw). Dan ada 313 pewaris dari para rasul berbeda dan para nabi dan Sahabat. Jadi, beliau memohon ijin untuk pergi semakin dalam ke samudera ayat Qur'an dari Surat al-An`am untuk mengambil sari nama-nama awliya itu.
Jadi selama 3 bulan, sebagaimana Grandsyaikh -semoga Allah merahmati jiwa beliau- jelaskan kepada kita, Grandsyaikh Syarafuddin sedang menuju ayat-ayat ini dan menyelam ke dalamnya untuk menarik keluar nama-nama itu dan Grandsyaikh telah memperlihatkannya kepada kita dan aku meng-copy semuanya. Dan kita punya copy-nya tapi yang asli menghilang ketika Grandsyaikh mangkat, itu menghilang.
Jadi, beliau mengambil sari nama-nama tersebut. Dan dengan begitu irsyad tidaklah mudah. Irsyad bukanlah memberimu sebuah pelajaran dan kemudian pergi. Kini mursyid akan menempatkanmu di tingkatnya tapi dia tidak membukakan matamu karena kamu belum lagi siap. Seperti kau lihat para tukang las ini yang menutup mata mereka ketika sedang mengelas, mursyid punya penutup seperti itu.
Juga cahaya wilayah, saat mursyid ingin membuka matamu lalu jika perisai hitam itu diambil maka matamu akan buta.
Jadi beliau mengambil sari dari ayat itu:
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاء إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (6:83)
Wa tilka hujjatunaa aatainaahaa ibraahiima 'alaa qaumihii narfa'u darajaatim man nasyaa-u inna rabbaka hakiimun 'aliimun
6:83 Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَقَ وَيَعْقُوبَ كُلاًّ هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِن قَبْلُ وَمِن ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (6:84)
Wa wahabna lahu is-haaqa wa ya'quuba kullan hadainaa wa nuuhan hadainaa min qablu wa min dzurriyyatihii daawuuda wa sulaimaana wa ayyuuba wa yuusufa wa muusaa wa haruuna wa ka dzaalika najzil muhsiniina
6:84 Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik;
وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ (6:85)
Wa zakariyyaa wa yahaya wa 'iisaa wa ilyaasa kullun mina ash-shalihiina
6:85 dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh;
وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلاًّ فضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ (6:86)
Wa isma'iila wal yasa'a wa yuunusa wa luuthaw wa kullan fadhdhalnaa 'alal 'aalamiina
6:86 dan Ismail, Alyasa, Yunus dan Lut. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya);
وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ (6:87(
Wa min aaba-ihim wa dzurriyyaatihim wa ikhwaanihim waj tabainaahum wa hadainaahum ilaa shirathim mustaqiim.
6:87 (dan Kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
Beliau mulai dari Nuh dan kemudian Ibrahim, Ishaq, Ya'qub dan Isma'il dan keturunan mereka, satu per satu, mereka semua dibimbing oleh beliau. Aj tabainaahum wa hadainaahum.. Beliau bimbing mereka, siapakah yang membimbing mereka? Allah swt. Dan siapakah yang menjadi kendaraan sesungguhnya untuk membimbing mereka? Itulah Sayyidina Muhammad (saw). Karena Allah swt berfirman kepada semua Nabi, apabila dia datang pada zamanmu, ikutilah dia dan kau akan menjadi orang normal. Jadi, bimbingan datang dari Allah swt kepada nabi dan dari nabi kepada seluruh rasul ini yang telah dijelaskan dalam ayat dari Surat al-An`am. Dan dari keturunan mereka, maka mereka akan dibimbing dan dia akan memilih siapa yang akan menjadi pembimbing dan mengklasifikasi peringkat merkea. Bukan dari masa mereka, tapi dari masa Sayyidina Mahdi. Yang sudah berlalu ditinggalkan, tapi beliau berusaha membawanya ke permukaan.
Jadi, semua orang yang sehari-hari membaca nama-nama ini, Allah swt membukakan ke hatinya bimbingan karena mereka yang membimbing. Jadi melalui mereka kau akan dibimbing. Dan siapapun yang memohon ampunan kepada Allah swt dengan kepentingan mereka atau untuk sebuah masalah, kesulitan atau pernikahan, maka Allah demi kepentingan mereka akan menyembuhkan atau menjadikan kesulitan-kesulitan teratasi, masalah-masalah pergi demi kepentingan awliya ini. Dengan kebijaksanaan itu, beliau menariknya keluar -untuk kebaikan Ummah- siapa yang mengikuti dan memberikan ijin untuk mengetahui mereka dan mengetahui tentang mereka. Tidak semua orang tahu mereka dan tahu tentang mereka. Mungkin saja ini pertama kalinya kau mendengar tentang hal itu.
Jadi, rahasia itu yang grand Grandsyaikh maksudkan dan menariknya keluar untuk diberitahukan kepada siapa-siapa yang ada di zaman Mahdi, ambil ini, awliya ini siap bagi kalian. Kau menyalami mereka setiap hari, kau bertemu mereka setiap hari. Mereka tidak bersembunyi. Saat kau kenal seseorang, kau ketuk pintunya dan dia akan menyambutmu. Jadi, ini penting untuk mengenal mereka setidaknya mengetahui nama-nama mereka.
Jadi, itu begitu berat tutur Grandsyaikh kepada Grandsyaikh Abdullah, untuk menarik nama-nama itu keluar. Seperti mencari sebuah cincin di jagad raya ini. Bagaimana susahnya itu. Ambillah sebuah cincin dan lempar ke ruangan ini. Atau ke taman seluas 1, 2 are, kau bisa mencarinya. Artinya kau harus mencari kemana-mana. Bagaimana kau akan mencari semua pembimbing ini, awliya ini. Membutuhkan waktu 3 bulan bagi Grandsyaikh Syarafudin untuk menarik nama-nama itu keluar dan orang yang menarikmu keluar harus tahu tentangmu. Seseorang yang menarikmu keluar. Bukan seseorang yang bersembunyi. Itulah mengapa beliau menjadi Grandsyaikh dan itulah kenapa beliau dari rantai emas. Dan juga seorang yang mewarisinya dari beliau. Beliau memberikan segala sesuatunya kepada Grandsyaikh Abdullah dan Grandsyaikh Abdullah memberikan semua kepada Mawlana Syaikh Nazim. Jadi, seorang yang menarikmu keluar dari ribuan orang, pastinya tahu tentangmu. Ketika kau sembunyi, aku tahu kau.
Jadi, itu sangatlah sulit pada hatinya. Beliau berkata kepada Grandsyaikh Abdullah bahwa, "Oh anakku, menarik nama-nama ini sangatlah sulit bagi hatiku dan aku akan wafat dalam 3 hari." Kemudian beliau menuliskan surat wasiat. "Apapun yang sang Nabi (saw) berikan kepadaku, aku mewarisinya kepada anakku, artinya Syaikh Abdullah al-Faiz Daghestani, aku telah memberikan dan mengenakannya kepada dia."
Jadi, beliau menuliskan surat wasiat kepada para muridnya di timur dan barat. Lalu apa yang terjadi? Beliau mangkat setelah 3 haru dan mereka menguburkan beliau disebuah desa bernama Gunekoy atau Rashadiyyah, dekat Yalova. Setelah mereka menguburkan belian, kemudian Grandsyaikh kembali ke rumahnya dan mengambil surat wasiat, menyobek-nyobek dan menguburnya.
Tidak seperti disini, 'allamma, mufti, pir,… 'allama. Dia berkata, "Aku tidak ingin seorang pun tahu tentangku. Aku disini bukan untuk kemasyhuran- untuk berkata, 'Oh dia menjadi sang Syaikh, Oh dia yang mewarisi.' Aku tidak ingin orang tahu. Aku hanya seorang hamba yang sederhana. Aku tahu jika Allah swt akan memanggilku pada Hari Kiamat, 'Abdullah kau tidak baik.' Kecuali jika sang Nabi (saw) memberi syafa'at."
Apakah manfaatnya untuk ..
Kini mereka mendatangi pir dan mengambil setengah halaman dan berkata, "Aku sudah ditunjuk dan seterusnya sebagai wakilku." Mereka membuat sebuah isu besar tentang itu dan mereka ingin semua orang tahu dan semua membungkuk kepadanya dan bahkan mencium kakinya. Mengapa? Ini adalah cinta riyaasa. Cinta untuk menjadi yang diatas.
Jadi Grandsyaikh Abdullah menyobek-nyobek surat wasiat itu. Beliau berkata, "Siapa yang menginginkanku, Allah akan mengirimkan. Aku tidak akan memperlihatkan diriku."
Dan beliau melanjutkan, "Mereka tidak pernah tahu aku kecuali Haji Abdullah." Setelah grand Grandsyaikh wafar, Grandsyaikh Abdullah yang hatinya paling tercerahkan, tanpa belajar apa-apa. Hati beliau terhubung dengan hati sang Nabi (saw), pengetahuan selalu keluar.
Satu kali Grandsyaikh Syarafuddin sedang duduk diatas bukit mengajarkan ulama-ulama Syariah. Dan Grandsyaikh sedang berlalu dibawah bukit. Dan mereka bertanya kepada beliau, "Mengapa anda selalu memberi dia perhatian yang lebih?"
Beliau menjawab, "Apakah kalian tahu dimana sekarang dia meletakkan kakinya? Atau kalian ingin mengetahui pada Hari Kiamat?"
Mereka berkata, "Katakan kepada kami dimanakah dia meletakkan kakinya sekarang, mengapa kita menunggu sampai Hari Kiamat."
Kemudian beliau menjawab, "Dimana dia meletakkan kakinya, aku tidak akan meletakkan ditempat yang sama."
Mereka hanya tahu dia sebagai Haji di areanya.
Aku punya tongkat Grandsyaikh, aku membawanya dari Lebanon. Dan disitu tertulis Haji Abdullah Husayn Abdullah. Seseorang membuatkannya bagi beliau. Bahkan tidak ada gelar Syaikh tertulis ditongkat.
Jadi, mereka menyembunyikan nama mereka, mereka tidak ingin dikenal.
Sama halnya ketika Grandsyaikh Abdullah mangkat, beliau menuliskan wasiat dan berkata, "Apa yang aku wariskan, aku wariskan kepada Mawlana Syaikh Nazim." Dan itu terjadi tahun 1973, setelah kami bersama dengan Mawlana Syaikh Nazim menguburkan Grandsyaikh, kami meletakkan wasiat tersebut dalam sebuah kotak penyimpanan yang besar, model kuno, bahkan kau tidak bisa memindahkannya.
Jadi, satu kali Mawlana Syaikh berkata, "Perlihatkan surat wasiat itu kepadaku." Dan beliau melihatnya, mencium surat itu dan berkata kepada kami, "Sembunyikan kembali. Tidak perlu seorang pun melihatnya." Jadi, kami meletakkannya lagi.
Jadi, pada masa itu orang-orang terpecah dan kami -aku dan saudara laki-lakiku- mendukung Mawlana Syaikh Nazim. Bukan mendukung beliau -beliaulah yang mendukung kami- tapi mendorong orang-orang untuk bersama beliau berdasarkan atas surat wasiat.
Jadi, pamanku sang mufti meminta untuk melihat surat wasiat. Kami mendatangi kotak itu, membukanya dan surat wasiat itu sudah hilang.
Jadi mursyid sejati ingin menyembunyikan dirinya sendiri, dia ingin bersembunyi dari orang-orang. Mursyid at-Tazkiyya adalah seseorang yang menyucikan dirinya sendiri. Jadi, bagaimana kau ingin mursyid yang memberikan gelar pada dirinya sendiri.
Jadi, jika kau melihat nama-nama yang dikeluarkan oleh Grandsyaikh Syarafuddin, beliau tidak menaruhnya didepan para Syaikh, Mawlana, pir, 'allama, dokter, sahib. Tidak, hanya nama dan kelompok.
Jadi sang mursyid at-tazkiyya adalah seseorang yang berusaha menyucikan dirinya sendiri. Meski dia seorang mursyid, dia harus berusaha untuk mengikuti jejak langkah sang Nabi (saw)
Dan mursyid dilarang mempunyai khaatir (pikiran .red) paling sederhana yang datang ke dalam pikirannya pada satu kesempatan, pikiran buruk. Dan mursyid harus mengikuti apa yang dikatakan dalam 4 mahzab tanpa satu pun ketidaksesuaian atau meninggalkan detil terkecil. Tidak, kau (mursyid) harus melaksanakan semuanya. Dan mursyid harus -jika berada pada maqam kedua- akan menerima dari mursyid-nya yang berada di maqam lebih tinggi, yaitu
mursyid at-Tasfiyya atau mursyid at-Tarbiyyah.
Jadi, mursyid harus mencari ijin dari mursyid at-tasifyyah yang akan meminta ijin dari mursyid at-Tarbiyyah yang akan meminta ijin dari Sultan al-Awliya dan yang akan meminta ijin dari sang Nabi (saw), ijin untuk meletakkan pada lidah para murid apa yang dia baca, yaitu Allah 24.000 kali dalam sehari.
Jadi, dalam maqam sebelumnya mursyid mempunyai kewajiban menjalankan 24.000 zikrullah dan 5.000 shalawat dan kini dia diwajibkan meletakkan itu pada lidah para muridnya.
Dia akan diberikan ijin untuk memanggil Syaikh manapun dari Thariqah Sufi Naqsybandi, jika dia memanggil Syaikh manapun, itulah yang aku bicarakan. Nama-nama sang Syaikh yang telah dikeluarkan oleh Grandsyaikh Syarafuddin, dia mempunyai ijin untuk memanggil siapapun dari mereka dan mereka akan muncul. Dan siapapun dari 7007 Syaikh Naqsybandi, jika dia memanggil mereka, mereka harus muncul dan dia butuh bantuan mereka dan dia harus meminta kepada mereka pertanyaan-pertanyaan.
Dan dia harus tahu seluruh awliyaullah dan pada satu waktu ada 124.000 awliya, dia harus mengenal mereka, tahu nama mereka dan mengadakan kontak dengan mereka dan dia bisa memanggil mereka kapanpun dan mereka harus memberikan respon kepadanya. Dan dia harus mengambil pengetahuan apapun yang mereka puny dan mempelajarinya dan dia harus tahu dari nabi mana mereka mewarisinya dan dia harus tahu sumber pengetahuan mereka untuk menjadi mursyid at-tazkiyya.
Jadi kewalian tidaklah mudah. Kini mereka berkata, "Orang ini seorang wali; orang ini seorang wali, dan mereka penuhi rak buku dengan buku dari orang itu dan orang itu, lihatlah dipojok sini. Untuk apa?
Sayang sekali, jenis pengetahun yang kita peroleh dari syuyukh kita bukanlah sesuatu yang sederhana. Kami akan berhenti disini dan dilanjutkan esok hari mengenai mursyid at-tazkiyya. Tapi kami harus mengatakan, bahkan ada mursyid karena nama, setidaknya mereka mengajarkan para murid mereka bahwa ada Allah, ada Nabi. Itu baik tapi mereka bukanlah tipe mursyid yang disebutkan. Tipe itu untuk sebagian, ala awliyaullahi la khawfan alayhim wa lahum yahzanoon. Dan sang Nabi (saw) bersabda dalam hadis suci "awliyaii tahta qibaabii la ya'alamahum ghayrii – Para wali-Ku berada dibawah Kubah-Ku, tidak seorangpun tahu tentang mereka kecuali Aku."
Tidak seperti mereka yang sekarang berkata "kita semua adalah awliyaullah." Dimanakah mereka? Dimanakah mereka menyembunyikan diri. Kembalilah ke sejarah dan baca. Berapakah banyak wali dalam sejarah? 124.000 wali, ketika satu wafat yang lain menggantikannya, terus begitu hingga Hari Kiamat. Dimanakah awliyaullah ini? Mereka bersembunyi.
Dan sang Nabi (saw) bersabda dalam sebuah hadis suci yang disebutkan oleh ibn Taymiyya dan dia tidak bisa berkata "tidak".
Beliau (saw) berkata man aadha lii waliyyan, aadhantahu bil-harb – siapa yang mengumumkan perang kepada Sahabat-Ku, Aku mengumumkan perang kepadanya."
Saat Allah swt mengumumkan perang, ini tidak seperti saat kita mengumumkan perang. Dia tidak menembakkan peluru. Dia bisa menembak apa yang Dia kehendaki, kun fayakuun – jadi, maka terjadilah. Kini berapa banyakkah musuh menentang kata "wali". Mereka berkata "tidak ada hal seperti itu." Bukan hanya orang, tapi hanya kata-kata. Ini disebutkan oleh Allah swt dalam Kitab Suci al Qur'an.
Mereka mengatakan "semua orang". Mengapa menyebutkannya. Jika semua orang adalah wali, mengapa Dia tidak mengucap man adha lii an-naas. Itu artinya ada wali dan tidak ada wali. Dan khitaab (teguran) ini bagi
pengikut Qur'an suci, untuk kaum Muslim.
Jadi wilayah tidaklah mudah. Wilayah adalah sesuatu yang sangat sulit.
Semoga Allah mengampuni kita dan merahmati kita dan keluarga kita serta semua orang yang mendengarkan kita dan mengutus kita ke surga tanpa dihisap dan kita semua akan bersama syuyukh kita.
Bi hurmatil habib, bi hurmatil Fatiha.
Apakah kita melupakan sesuatu, aku merasa ada sesuatu yang tidak kami jelaskan. Sesuatu tentang surat wasiatnya.
Sumber :
milis muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com
posted by Sri Rahayu Handayani