Mawlid Nabi Muhammad saw Adalah Hari Kemerdekaan Umat Islam
Dari buku Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi saw
Oleh Mawlana Syekh Hisyam Kabbani qs
Penerbit: Serambi
Bismillah hirRohmaanirRohim
PERINGATAN MAULID DI MEKAH MASA AWAL
Mari kita menelaah kembali sumber-sumber awal yang menyebut peringatan maulid Nabi saw oleh masyarakat Arab di Mekah Almukaramah. Salah satunya karya Ibn Jubayr (540-614), yaitu kitab Rihâl (Perjalanan) . Di dalamnya, ia menggambarkan hasil pengamatannya tentang maulid, “Tempat yang diberkati ini (yaitu rumah Rasulullah saw.) dibuka dan semua orang masuk ke dalamnya untuk mendapatkan berkah, yaitu pada setiap hari Senin bulan Rabiul Awal, karena pada hari itu dan pada bulan itu Nabi saw dilahirkan.”
Sejarawan abad ke-7, Abû al-‘Abbâs al-Azafî, dan putranya, Abû al-Qâsim al-Azafî, menulis dalam Kitâb al-Durr al-Munazzam, “Jamaah haji yang saleh dan para pelancong yang terkemuka memberi kesaksian tentang hal itu, pada hari maulid di Mekah, tak ada aktivitas yang dikerjakan, dan tak ada yang dijual atau dibeli kecuali oleh orang-orang yang sibuk mengunjungi tempat kelahirannya yang mulia. Pada hari itu Kabah dibuka dan dapat dikunjungi.”
Sejarawan terkenal abad ke-8, yaitu Ibn Bathûthâh menceritakan dalam kitabnya Rihlah, “Pada setiap hari Jumat, setelah salat jumat dan pada hari kelahiran Rasulullah saw., pintu Kabah dibuka oleh kepala suku Bani Syaybah, yang juru kunci Kabah, dan pada hari maulid, qadi bermazhab Syâfi‘î, Najm al-Dîn Muhammad ibn al-Imâm Muhy al-Dîn al-Thabarî, membagi-bagikan makanan kepada para syarîf (keturunan Rasulullah saw) dan semua orang Mekah.”
MAULID ADALAH HARI KEMERDEKAAN UMAT ISLAM
Nabi Muhammad Salallahu alayhi wasalam adalah pahlawan kita, bahkan super pahlawan kita! Rakyat di setiap negeri muslim bergembira karena telah mendapatkan kemerdekaan nya dari kaum penjajah yang telah membelenggu mereka, dengan anggapan bahwa hari kemerdekaan adalah hari kelahiran bagi bangsanya—itulah hari raya nasional.
Di setiap negeri muslim, penekanan pada hal ini begitu kuat terasa sehingga setiap anak hafal benar tanggal hari kemerdekaannya dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengannya. Peringatan hari ulang tahun tersebut menggambarkan kebebasan mereka dari penjajahan dan diterimanya identitas baru mereka sebagai suatu bangsa yang belia.
Pada hari raya itu, bendera-bendera berkibar di setiap jalanan, foto-foto para bapak pendiri bangsa dipasang secara mencolok di mana-mana, nama-nama para pahlawan lainnya disebut-sebut, dan riwayat hidup mereka disiarkan ke seantero negeri sepanjang hari, minggu, dan bulan. Di mana-mana hari kelahiran bangsa diperingati dengan berbagai pertunjukan yang memesona, parade, lampu warna-warni, dekorasi, kembang api, dan pawai militer, seperti di Amerika pada setiap tanggal 4 Juli.
Subhanallah, keberatan-keberatan tidak diajukan atas peringatan hari-hari raya nasional kaum muslim. Oleh karena itu, tak selayaknyakah kaum muslim memperingati satu-satunya orang yang telah membebaskan kita dari sesuatu selain Allah swt, yang telah membawa kita dari kekufuran ke keimanan, dari kemusryrikan ke tauhid, yang telah membangun masyarakat kita dan memberi kita identitas baru sebagai muslim?
Mengapa kita tidak bergembira akan peristiwa tersebut dengan mengingat kebesarannya, keberaniannya, kepemimpinannya, dan berterima kasih kepada Allah swt pada hari itu, yaitu hari Dia menganugerahi kita dengan menjadi umat Nabi Muhammad sallallahu alayhi wasalam? Sebagai umat terbaik di muka bumi, tidak akankah kita masuk ke surga lebih dahulu karena kebesaran Nabi Muhammad Salallahu alayhi wasalam ?
wasalam, arief hamdani
www.mevlanasufi.blogspot.com
archieve april 2005
Sumber :
milis muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com
posted by Arief Hamdani